
Artikel ini dimuat juga di harian Suara Merdeka pada Kamis, 13 November 2008
SUDAH menjadi kesan umum, bahwa Kabupaten Grobogan identik dengan jalan rusak. Kesan tersebut terus tertanam sampai saat ini, apalagi saat musim hujan seperti sekarang.
Kesan tersebut bukan bualan belaka, melainkan ada fakta empiris yang bisa membuktikannya. Menurut data statistik, dari 213.246 kilometer (km) jalan provinsi, hanya 18.700 km (8,8 %) saja yang keadaannya masih baik.
Selebihnya, 126.666 km (59,4 %) dalam keadaan tidak baik, bahkan 67.880 km (31,8 %) dalam keadaan kritis. Belum lagi kalau melihat kondisi jalan kabupaten yang totalnya mencapai 880.100 km, sebagian besar dalam keadaan rusak, bahkan sebagian lainnya rusak berat.
Kondisi seperti itu sangatlah memprihatinkan. Apalagi Kabupaten Grobogan kalau dilihat dari segi geografis terletak di antara persimpangan kota lain, seperti Kudus, Demak, Kota Semarang, Salatiga, Solo, dan Blora.
Posisi itu menunjukkan Grobogan memiliki peran vital dalam penggunaan jalur transportasi, terutama dalam peta jalur perdagangan. Peta jalur seperti itu, kalau dimanfaatkan secara maksimal, bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi pemerintah daerah (pemda) maupun masyarakat setempat.
Ada kemungkinan, karena letaknya di tengah-tengah persimpangan, Gro-bogan bisa digunakan untuk tempat transit. Peran ‘’transito’’ itu juga menyangkut jalur wisata antardaerah sebagai potensi yang membuka kemungkinan penanaman modal di bidang jasa, perhotelan, rumah toko (ruko), dan lain-lain.
Selain itu, Grobogan juga potensi terbesar dalam bidang pertanian di Jateng. Bahkan sejak dulu Grobogan dikenal sebagai lumbung padi terbesar kedua di Jateng setelah Cilacap. Areal persawahan di kabupaten itu seluas 60.349 hektare atau sekitar 6,04 persen dari seluruh lahan sawah di Jateng.
Hasil pertanian seperti kedelai dan kacang hijau menempati urutan kedua di Jateng, bahkan untuk komoditas jagung, Grobogan menjadi sentra terbesar di Jateng.
Selain tanaman pangan, Grobogan juga menjadi sentra produksi buah-buahan, terutama mangga, belimbing, dan pisang; serta andalan untuk tanaman perkebunan seperti tembakau, kapas, dan kelapa hibrida.
Pariwisata
Di bidang pertambangan, kabupaten itu memiliki deposit besar berupa batu gamping, pasir berbatu (sirtu), tanah liat, gipsum, dan posfat. Belum lagi potensi pariwisata seperti Bleduk Kuwu, Air Terjun Widuri, Api Abadi Mrapen, dan Waduk Kedungombo yang statusnya milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.
Potensi-potensi alam itu, kalau tidak didukung oleh sarana infrastruktur dan transportasi yang memadai, hanya akan “teronggok” sia-sia. Aset dan po-tensi itu menjadi tidak menarik untuk dilirik oleh masyarakat, karena sarana transportasi yang menghubungkan ke sektor-sektor terkait tersebut tidak memadai.
Dengan kondisi jalan seperti itu, wajar bila sampai saat ini Kabupaten Grobogan masuk kategori daerah mis-kin di Jawa Tengah, meski di sisi lain mendapat predikat gudang padi.
Memprihatinkan, beberapa aset daerah yang dimiliki tidak “terjamah” oleh masyarakat luas hanya karena jalan rusak yang setiap waktu bertambah parah.
Kalau kondisi seperti itu terus dibiarkan, ada kemungkinan roda perekonomian Kabupaten Grobogan akan terus melemah, dan predikat sebagai daerah miskin akan terus disandang, karena lambat laun perputaran sektor ekomoni akan mati.
Obsesi Grobogan menjadi kota perdagangan (bisnis) dan wisata seperti yang dilontarkan oleh Bupati Bambang Pudjiono akan sia-sia, jika tidak diimbangi dengan rencana sistematis rehabilitasi jalan secara total.
Perhatian Utama
Berkaca kepada kondisi tersebut, tampaknya peran infrastruktur sangatlah vital. Karena itu, sektor tersebut harus lebih diperhatikan daripada sektor-sektor lain. Harapannya, setelah fasilitas jalan di Kabupaten Grobogan ditata dan ditangani secara baik dan memadai, akses menuju kemajuan pada sektor lain akan mudah dibuka.
Sektor pertanian, perindustrian, dan pariwisata, mutlak membutuhkan dukungan infrastruktur transportasi yang memadai. Secara sederhana, bagaimana bisa menawarkan Objek Wisata Bledug Kuwu, Api Abadi Mrapen, dan Waduk Kedung Ombo misalnya tanpa diimbangi dengan jalan mulus.
Apalagi di era otonomi daerah seperti sekarang, obsesi demi kemajuan suatu daerah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Daerah dituntut untuk memacu penggalian potensi-potensinya, antara lain dengan menggaet investor.
Pemerintah-pemerintah kabupaten kini terkondisi untuk menawarkan daerahnya melalui berbagai media; dari leaflet hingga internet. Juga dengan berbagai kemudahan yang memangkas kekakuan belenggu birokrasi. Sekali lagi, itu mesti diimbangi dengan ketersediaan prasarana vital transportasi.
Grobogan masih belum bisa melepaskan diri dari citra jalan rusak yang parah. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan masalah tersebut berbagai pihak juga harus dilibatkan, baik dari pihak pemerintah, para ahli, maupun masyarakat luas, untuk sama-sama memikirkan kembali perbaikan jalan yang rusak.
Masalah kerusakan jalan yang terjadi terus-menerus itu, tidak semata-mata karena kurangnya perhatian maupun dana dari pemerintah, tapi juga karena struktur tanah di Grobogan yang labil. Apalagi saat musim hujan, jalan akan mudah ambles.
Oleh karena itu, pembangunannya harus dicarikan pola dengan konstruksi yang pas untuk tanah yang labil tersebut. Dalam hal itu, peran ahli geoteknik perlu dimaksimalkan. Semoga, pokok pikiran tersebut bisa menjadi pelecut Pemeritah Kabupaten Grobogan untuk segera membenahi fasilitas-fasilitas jalan yang dimilikinya.(68)
– Amin Fauzi, warga Desa Batur-agung, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, kuliah di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.
Jumat, November 21, 2008
Memotret Grobogan dari Jalan
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
3:41 AM
0
komentar
Label: wacana
Rabu, November 05, 2008
Api Mrapen, Wisata Berbasis Budaya

Tulisan ini di muat juga di harian Suara merdeka pada Kamis, 30 Oktober 2008
Rabo, 8 Oktober 2008 kemarin, Api Abadi Mrapen menjadi bukti sejarah lagi. Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih menyalakan obor yang diambil dari api Mrapen, kemudian diserahkan kepada panitia Bali Asean Beach games (BABG) 2008 yang rencananya diikuti oleh 45 negara dan akan dilaksanakan pada 18-26 Oktober 2008 di Bali.
Pengambilan api abadi ini juga diiringi oleh prosesi rutual dan pertunjukan tari
daerah yang digelar di daerah kompleks api abadi Mrapen.
Ya. Komplkes ini terletak di antara jalan Semarang-Purwodadi kira-kira KM 26 dari dari arah Semarang, tepatnya di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Di komplek ini anda akan menemukan beberapa keanehan alam yang dapat anda nikmati, yaitu api abadi yang merupakan pesona keluarnya api dari dalam tanah yang tidak pernah padam sekalipun turun hujan.
Tidak jauh dari sumber api abadi, terdapat sendang dudo, yaitu sumber air berdiameter 3 meter, kedalaman lebih kurang 2 meter. dimana airnya senantiasa kelihatan mendidih tetapi tidak panas. Letupan air itu akan menyala kalau kena api dipermukaan air.
Menurut penelitian air tersebut banyak mengandung mineral dan zat-zat kimia. Air yang dilihat keruh bila dimasukkan kedalam sebuah gelas, akan berubah wujud menjadi bening. Konon sampai sekarang air tersebut mempunyai keajaiban untuk menyembuhkan orang yang menderita penyakit gatal-gatal.
Di dekat titik sumber api juga terdapat sebuah bangunan yang di dalamnya tersimpan sebuah batu umpak atau "batu bobot" yang oleh masyarakat setempat sering kali dikeramatkan.
Wisata Agama dan Budaya
Selain itu, Api Mrapen juga memiliki hikayat dan sejarah panjang. Apinya sudah lama dikenal sebagai sumber api banyak kegiatan olah raga dan budaya di Indonesia.
Seperti pesta Olah Raga Internasional Ganefo I tanggal 1 November 1963. Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai PON X tahun 1981, POR PWI tahun 1983, HAORNAS, Upacara hari raya Waisak dan pembukaan Bali Asean Beach Games pada 8 Oktober kemarin.
Tidak hanya proses keanehan alam yang terjadi ditempat ini, tetapi juga punya nilai sejarah budaya atas terciptanya tempat ini. Yaitu tempat dimana besalennya Empu Supo. Api abadi adalah tempat untuk membakar besi, sumber airnya untuk "menyepuh", sedangkan batu bobotnya untuk menempa keris pusaka. Menurut masyarakat setempat Empu Supo adalah Empu dari Majapahit yang turut pindah ke Kerajaan Demak.
Tempat ini terkenal sebagai Obyek Wisata Api Abadi Mrapen yang pernah nampak indah tertata rapi dan banyak pengunjung sekitar 10 tahun silam.
Perlu Perhatian Lebih
Namun keberadaanya saat ini sangat memprihatinkan, kondisi dalam area maupun sekitar wisata tersebut nampak kumuh, terlihat tidak pernah dirawat oleh yang berwenang. berbagai kegiatan juga tak menyentuh tempat ini, masyarakat juga jarang sekali melirik tempat ini apalagi mengunjunginya. Bahkan image masayarakat terhadap objek wisata tersebut sangat negatif dibanding Objek Dan Daya Tarik Wisata (ODTW) di luar kota lain.
Sudah selayaknya tempat ini dilirik kembali, karena bisa dibilang wisata di daerah Grobogan sangatlah minim dibandingkan dengan daerah lain. itupun tingkat perhatian dan prosantase pengunjungnya sangatlah minim.
Untuk memulihkan kembali wisata tersebut, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada upaya keras dan berbagai kerja sama antar pihak untuk memangun kembali wisata alam ini.
Pemerintah tidak bisa berdiri sendiri dalam mengambangkannya. Akan tetapi juga harus ada kerja sama antar pihak baik itu pemilik, pemerintah maupun mendatangkan investor untuk sama-sama memajukan wisata tersebut. Terlebih juga dukungan masyarakat setempat untuk merawatnya.
Karena kalau melihat kondisi Wisata Api Abadi Mrapen saat ini, hal yang mesti dilakukan utama adalah pembangunan fisik, baik itu fasilitas maupun penambahan permainan, dengan harapan bila pengunjung hadir tidak hanya melihat wisata alam tersebut, akan tetapi bisa menikmati fasilitas lain yang di tawarkan.
Pembangunan itu butuh modal besar, karena banyak fasilitas yang perlu diperbaiki. Sehingga butuh dana besar untuk bisa memberikan sesuatu yang lebih tersebut. Disinalah peran investor sangat diperlukan untuk menggait dana pembangunan. dengan harapan setelah ada dana bisa memperaiki fasilitas yang ditawarkan.
Karena bicara objek wisata sama seperti halnya menjual barang dagangan. Pembeli atau pengunjung akan merasa tertarik jika barang tersebut menawarkan sesuatu keunikan dan memberikan kesan yang baik.
Hal itu bisa dilakukan saat ini adalah: Pertama, adalah pembangunan dan penambahan fasilitas yang cukup memadai bagi pengunjung. Karena mengingat objek wisata ditempat lain persaingannya juga semakin ketat, pengunjung juga sangat selektif memilih objek yang akan dikunjungi.
Kedua, menganalkan kembali objek tersebut kepada masyarakat, pengenalan ini tentuya mencakup promosi maupun sosialisasi terus menerus dengan model menjemput bola, tidak hanya menunggu pengunjung yang datang.
Ketiga, memberikan trust (kepercayaan) yang baik, dalam konteks ini bisa mencakup pengelolaan yang baik, pelayanan yang memuaskan maupun memeberikan kesan hangat kepada pengunjung.
Dengan begitu pengunjung akan merasa nyaman dan senang dengan faslitas yang ditawarkan, karena biasanya kesan pertama sangat menentukan ketertarikannya, dengan harapan setelah berkunjung selesai mengunjungi, kemudian bercerita kepada orang lain mengenai kesan wisata ini, seperti pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".
Ya. Semoga dengan semua harapan dan perhatian ini bisa segera ditindak lanjuti oleh yang berwenang. Minimal tidak hanya api abadinya yang terus berkobar, tetapi kobaran semangat kebanggan memiliki wisata alam yang unik ini juga terus ada.
(Amin Fauzi, Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syar'ah IAIN Walisongo Semarang dan MAntan Pemimpin Redaksi Surat Kabar (SKM)AMANAT IAIN Walisongo)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
8:51 PM
0
komentar
Label: wacana
Senin, Juli 21, 2008
Menjadi Selebritis Abadi

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
-- Pramoedya Ananta Toer
Ingin menjadi orang yang terkenal atau selebritis, tak harus menjadi artis sinetron atau artis layar lebar yang tiap hari nongol di televisi, atau kemana-kemana dikejar-kejar oleh wartawan hiburan.
Banyak cara untuk menjadi selebritis, salah satunya dengan menulis. Entah itu menulis cerpen,novel, puisi, artikel, ataupun buku-buku ilmiah.
Banyak penulis-penulis terkenal yang popolaritasnya meleibihi artis-artis layar kaca. Sebut saja Muhammad Hatta, Soekarno, Armin Pane, Sutan Ali Sya'bana, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Ahamad Tohari atau penulis-penulis sekarang seperti Habiburahman Saerozi melalui novel Ayat-Ayat Cinta yang lagi booming melalui filmnya, dan banyak lagi penulis-penulis lain yang popular karena karya-karyanya.
Sutan Takdir Alisjahbana misalnya. Melalui karyanya Layar Terkembang, karya fenomenalnya masih banyak di baca dan bahkan menjadi buku wajib bagi para pelajar dan mahasiswa hingga sekarang.
Pramoedya Ananta Toer juga salah seorang penulis besar yang mengharumkan bangsa di pentas internasional. Karena tidak sedikit karyanya yang diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di seluruh dunia.
Penulis lain adalah Ahmad Tohari, ia tidak tinggal di pusat kota, tapi hanya tinggal di pelosok desa Tinggarjaya, Jatilawang Banyumas Jawa Tengah, namun dari sana banyak monorehkan karya-karya sastra yang mempesona bagi pembacanya. Karya-karyanya telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda Jerman dan Inggris.
Mereka adalah selebritis yang melewati jalurnya dengan cara menjadi penulis. Tidak spontan dan tak mudah hilang popularitasnya sampai kapanpun selagi karyanya masih ada. Meskipun orangnya sudah meninggal berpuluh-puluh tahun yang lalu, tetapi dengan karyanya ia senantiasa hidup untuk dibaca dan dikenal oleh pembacanya. Seperti dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Ya. Dengan menulis, orang tidak selesai pada penyampaian ide. Tetapi di dalamnya terdapat goresan sejarah dirinya yang kelak akan dikenang dan dinikmati oleh pembacanya.
Gelar selebritisnya tidak semu, yang mungkin hilang dalam sekejap dimakan waktu seperti selebritis-selebritis biasanya. Karya seorang penulis mampu meruang dan mewaktu untuk siapa saja dan kapan saja.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
5:40 AM
0
komentar
Label: wacana
Minggu, Juni 22, 2008
Busanamu Itu Lho Nak……!

“Dress is powerfull signifier of historical time, age, gender, class, religious and political orientations”
---- Jean Gelman Taylor
Sejarah pakain adalah sejarah pertemuan, lahir bukan tercipta dari ruang yang hampa, ada benturan-benturan peristiwa terjadi, bongkahan-bongkahan sejarah tercipta. Seperti yang tuturkan Taylor pakaian adalah kekuatan penanda dari sejarah waktu, usia, gender, kelas dan bahkan orientasi politik.
Setiap bangsa, suku punya pakian adat yang memberikan ciri khas dari bangsa tersebut. Dalam pakaian tersebut terdapat karakter kepribadian yang membiaskan dirinya.
Bahkan menurut agama, pakaian tak sebatas tanda, tapi penutup "aurat", di dalamnya diatur organ tubuh yang mana seharusnya ditutup oleh pakaian. Karena bagian yang ditutup terdapat rahasia yang tidak etis jika diperlihatkan oleh semua orang.
Di Jawa sendiri ada adigium "ajinhing raga ono ing busono, ajining ati ana ing lati" bahwa dihargainya sebuah raga karena dikenakan busana yang sopan pula. Dalam arti yang lebih spesifik untuk bisa menghargai diri sendii pakailah busana yang sesuai dengan adat dan norma yang berlakau, seperti yang dikatakan Taylor tadi bahwa pakaian adalah layaknya penanda.
Nilai-nilai itu yang diajarkan baik oleh ajaran agama maupun adat di Indonesia terutama di jawa. Menutup aurat dikala keluar dari rumah adalah suatu keniscayaan, biarpun pakian itu nampak lusuh, meskipun hanya berapa helai yang dipunyai akan tetapi diusahakan yang dipakai adalah pakaian yang kiranya bisa menutup suatu hal yang sakral, dalam artian bisa dinikmati baik mata maupun raba oleh keluarganya sendiri.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, sejalan dengan lebih terbukanya ruang, nilai-nilai itu semakin kabur terhempas oleh arus moderenisasi, konsumerisme, hedonisme yang ujung-ujungnya adalah budaya materialisme.
Nilai kesopanan dalam berbusana tidak lagi diperhatikan, cirikhas pakain suatu adat tertentu tidak lagi dikenakan. Orang-orang sekarang terutama generasi muda lebih senang suatu yang simple meskipun tanpa nilai, nilai rasa pakewuh, malu semakin luntur dan yang semakin tumbuh adalah budaya cuek.
Seperti yang nampak di mall-mall, di ruang-ruang publik, banyak perempan-perempuan usia muda berpakain nanggung, berawal dari busana ketat yang memperlihankan bentuk dan struktur tubuh, berlanjut dengan memperlihatkan separuh dada yang terkadang memperlihatkan tali bra, dan terus ke bawah memakai desain pakain yang memperlihatkan batas antara perut dan suatu sacral bagi wanita. Bahkan ada yang lebih lucu lagi, atasnya memakai jilbab tapi bawahnya juga diperlihatkan seperti celengan.
Mereka yang ditiru dan yang dibeli adalah apa yang ada di TV dan yang diperlihatkan di media-media biar nampak keren meskipun melupakan norma-norma. [Amin Fauzi]
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
6:39 PM
0
komentar
Label: wacana
Sabtu, Juni 07, 2008
Cantik Tak Harus Putih

"Cantik adalah konstruksi sosial belaka"
--- Dian Sastro Wardoyo.
Kutipan di atas penah terucap oleh Dian Sastro tatkala bincang-bincang soal kecantikan di salah satu stasiun TV swasta. Yang mengkritisi obesesi kecantikan orang-orang Indonesia yang melihatnya dari luarnya saja.
Ya. Akhir-akhir ini banyak iklan televisi mengenai produk-produk kecantikan yang menjanjikan merubah kulit menjadi lebih putih hanya dalam beberapa minggu, entah Pond White Lotion, Citra White, Emeron White, Sari Ayu White dan lain sebagainya dengan model-model cantik berkulit bersih yang pada intinya mengajak masyarakat untuk berkulit putih.
Kulit putih menjadi obsesi kecantikan orang Indonesia. Cantik adalah putih, itulah yang selalu dicitrakan oleh media maupun kebanyakan orang. Di sinetron-sinetron televisi banyak juga artis-artis yang menngkonstruksikan bahwa wanita cantik adalah wanita berparas putih, semampai, hidung mancung, gaya bahasanya agak keingris-ingrisan, yang seakan-akan seperti postur perempuan-perempuan barat.
Sehingga dalam banyak sinetron yang memasang perempuan Indo yang lebih mengandalkan fisik dari pada acting yang bagus. Dan bahkan banyak juga artis-artis Indonesia yang menikah dengan orang barat.
Dari pencitaan yang disampaikan media tersebut, secara kritis dimanfaatkan oleh perngusaha kecantikan untuk membuat produk yang bisa membuat kulit menjadi putih, dan anehnya masyarakat menerima dengan mentah pencitraan tersebut, sehingga banyak perempuan larut dan bahkan ketagihan untuk menggunakan produk-produk pemutih.
Idealime Kecantikan
Padahal kalau mau menginstropeksi diri sendiri, setiap bangsa, budaya punya karakter kulit tersendiri dan punya idealisme kecantikannya tersendiri. Di Indonesia khususnya Jawa, masyarakatnya mempunyai ciri khas kulit kuning langsat atau sawo matang. Di kalangan elit Jawa sendiri juga tidak mendambakan kulit putih, bahkan putri-putri keraton untuk menjadi cantik dia mendambakan kulitnya untuk menjadi kulit langsat.
Cantik sesungguhnya adalah suatu yang abstrak. Dalam literatur Jawa, idealisme kecantikan bukan terletak pada fisik semata, tetapi penggambarannya terletak pada metafora-metafora alam yang meninsyaratkan akan keindahan.
Dalam Sarat Kakawin yang ditulis ulang oleh Helen Creese yang berjudul The Embodiment of Female Beauty in Kakawin literature. Literature yang berisi tentang kumpulan puisi ini yang dulu dikenal dengan nama Dwi Dwipa, pada zaman ketika budaya jawa belum mempuyai hubungan kontrak dengan budaya barat/Eropa.
Dalam buku tersebut menggambarkan idealitas kecantikan peempuan melalui puisi, dalam salah satunya kutipan misalnya: Daun asoka adalah pinggangmu/ indahnya kuning kelapa gading seindah payudaramu/ indahnya lambaian tanaman gadung adalah juntai tanganmu/teratai biru adalah indah matamu/remang bulan seperti berganti siang karena kecantikanmu/merana karena hilangnya cahaya/berapapun banyaknya puisi yang ada di muka bumi ini/ takkan pernah cukup untuk melukiskan pesona kecantikanmu/.
Kesan jelas yang bisa dilihat dari kutipan puisi di atas adalah bersifat metaforis, yang menggunakan benda-benda alamiah seperti bunga, daun asoka, kelapa gadng, teratai untuk melukiskan keindahan pesona kecantikan fisik seorang perempuan yang semuanya itu bersifat abstrak dan tidak menunjukkan karakter warna.
Adapun menganai idealime kulit cantik orang jawa seperti disebutkan dalam buku tersebut melalui kutipan puisinya tertulis: tangganya panjang seperti seperti pangkian anak panah/rambutnya gelombang dan hitam sekali/giginya seperti biji buah mentimun/tubuhnya langsing kuat/ warna kulitnya kuning seperti kunyit/ matanya sering berkedip seperti bila tertiup angin/anak rambutnya banyak/semua itu menambah pesona ayumu/.
Dalam kutipan tersebut jelas disebutkan bahwa cantik orang jawa adalah jika mempunyai kulit kuning seperti kunyit bukan putih seperti yang dicitrakan oleh produk-produk iklan masa kini.
Jika media mencitrakan cantik itu putih, itu hanya sebuah bentuk kolonialsme baru yang manganjurkan perempuan Indonesia untuk berkulit putih melalui hegemoni media.
Orang Indonesia punya karekter sendiri, punya idealisme kecantikan tersendiri. wisatawan-wasatawan manca negara yang berkunjung ke Indonesia saja sukanya berjemur di pantai dengan harapan bisa menggelapkan kulit putihnya, justru orang Indonesia ingin memutihkan kulitnya.
Sudah saatnya perempuan Indonesia kritis terhadap media dan kritis produk-produk kecantikan yang di tawarkan oleh perusahan pembuat kecantikan, bukan saatnya lagi menerima secara mentah-mentah.
Cantik tak harus putih, dalam sebuah filsafat Coufusius mengatakan bahwa Everything has beauty, but not everyone sees it.(Semuanya mempunyai kecantikan, tetapi tidak semua orang dapat melihatnya). Beauty is in the eye of the beholder. tanpa hati dan perilaku yang baik, kulit putih dan paras cantik bukan berarti apa-apa. [Amin Fauzi]
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
4:48 PM
3
komentar
Label: wacana
Senin, Mei 19, 2008
menepis kerakusan manusia

Hobi manusia menumpuk-numpuk harta benda bisa menambah kekeringan spiritualitas
Saat ini manusia memang berada di tengah peralihan sejarah yang menentukan. Dunia yang di ciptakan oleh lebih dari tiga abad moderenisasi ini telah mengirimkan sinyal bahaya menyangkut kompleksitas interaksi ekologi yang menopang kehidupan di bumi.
Rentetan bencana melanda berbagai wilayah di Indonesia.Ada yang terjadi karena proses alamiah dan akibat ektifitas lempeng-lempeng kerak bumi dan banyak di sebabkan oleh ulah manusia sendiri.
Kegiatan manusia, khususnya dalam hal produksi dan konsumsi energi untuk menciptakan berbagai sarana yang menunjang “kenyamanan” hidup telah membuat atmosfer bumi seperti bejana raksasa berisi gas-gas buangan yang volumenya sama-sama besar.
Sehingga banyak memakan banyak korban rakyat nusantara ini, masyarakat Aceh yang belum pulih dari penderitaan akibat tsumani, setelah itu di berbagai daerah dirundung oleh banjir yang bertubi-tubi, ribuan orang terpaksa mengungsi. Ratusan rumah dan sawah rusak di landa banjir.
Penyebab terjadinya bermacam bencana ini dikarenakan oleh kerakusan, ketamakan dan kecongkaan sifat manusia yang hanya berfikir jangka pendek demi kepentingan dan keuntungan pribadi belaka.
Harian International Herald Tribune Sabtu-Minggu-Senin 29-30 april, 1 Mei 2006 halaman pertama memuat artikel berjudul: The end of Borneo’s tropical forest?. Pembicaraan telah dimulai dari kalangan RI dan pihak Cina untuk menjual hutan dan menebang pohon-pohon Merbau. Pada tanggal 19 April 2006, Indonesia mengumukan bahwa Cina telah memesan 1 milyar dolar untuk 800.000 meter kubik kayu demi mempersiapkan konstruksi fasilitas olahraga olimpiade 2008. (Etty Indriyati, 2007:36)
Sehingga benar seperti yang paparkan oleh Badan Pangan Dunia, FAO menyebut laju pengahancuran hutan di Indonesia sepanjang 2000-2005 sebagai yang tercepat di dunia. Setiap tahun rata-rata 1,871 juta hektar hutan hancur atau 300 lapangan sepak bola setiap jam. Kehancuran 2 persen dari luas hutan yang tersisa dari luas hutan yang tersisa itu jauh melebihi Zimbabwe, Myanmar, dan bahkan Brasil.
Sehingga akibatnya pun jelas, hujan yang terus menerus membanjiri daerah yang berdataran rendah, kasus terdekat yaitu kota Jakarta seketika di genangi oleh banjir akibat hujan yang terus beruntun.
Hujan yang terus menerus menyebabkan tanah longsor di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera utara mengakibatkan 21 orang tewas. Hutan alam Riau yang terus menerus ditebang sekarang hanya tersisa 5 %. Di Wonogiri Jawa Tengah, gagal panen akibat kekringan. Untuk mencukupi kebutuhan air sawah di daerah itu diperlukan 100 unit sumur petak dan 77 unit pompa air, rehabilitasi embung rakyat senilai Rp 231,4 milyar dan rehabilitasi hutan Rp 223,9 miliar. Suatu jumlah yang sangat besar yang seharusnya tidak perlu dibayar apabila lingkungan ditata dan penataan ditaati sesuai daya dukung lingkungan yang dimiliki.
Kegiatan manusia, khususnya dalam hal produksi dan konsumsi energi untuk menciptakan berbagai sarana yang menunjang “kenyamanan” hidup telah membuat atmosfer bumi seperti bejana raksasa berisi gas-gas buangan yang volumenya sama-sama besar.
Para ahli menyebutnya gas buangan itu sebagai gas-gas rumah kaca, terdiri dari berbagai jenis gas; anatara lain, metana (CH4) dan Nitrogen oksida (NO), tetapi kompoen terbesarnya adalah karbon dioksida (CO2). Lama usia kilogram gas dalam atmosfer, seperti pernah dipaparkan Prof Emil Salim, adalah 50-200 tahun untuk karbon dioksida, 12 tahun untuk metahana, 114 tahun untuk karbon dioksida.
Emisi gas-gas rumah kaca itu membentuk selubung yang semakin tebal, membuat temperatur di bumi naik, diprediksi mulai satu sampai tiga derajat Celcius pada abad ini dan berpotensi mengubah pola cuaca secara ekstrem, bencana sudah di depan mata, kalau manusia tidak ingin mengubah cara hidupnya.
Begitulah bahasa sederhana dari inti laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) tentang dasar sains perubahan iklim yang dirilis di paris baru-baru ini.
Menurut Proyek karbon Global (The Global Carbon Project) pada tahun 2005 sekitar 7,9 ton CO2 dilepaskan ke atmosfer. CO2 sebagai gas rumah kaca sebagian besar oleh aktifitas manusia. Konsumsi energi di era industri melecut pelepasan CO2 yang semakin melipat.
Dapat dikatakan kenaikan temperatur bumi yang cukup signifikan tidak bisa lepas dari konsumsi energi manusia yang sedemikian tinggi pada massa kini. Efek rumah kaca yang antropogenik inilah mulai menggangu keseimbangan pengaturan suhu permukaan bumi. Diperkirakan temperatur bumi semakin meningkat. Perubahan iklim yang ekstrem mulai terjadi.
Sebagian akibatnya sudah nampak, banjir yang makin hebat dan kekeringan berat, ledakan penyakit-penyakit yang timbul melalui vector malaria, demam berdarah dan flu burung, hasil panen merosot, kelaparan, malnutrisi, rusaknya ekosistem laut dan punahnya sekitar 15-40 persen spesies keragaman hayati yang mendukung keberlanjutan kehidupan.
GAIA: Bumi Sebagi Organisme Hidup
Untuk memahami persoalan ini, James Lovelock pemikir asal Inggris mengarahkan perhatianya pada bumi dan mencetuskan gagasan mengenai Gaia.
Gagasan utama dalam hipotesis Gaia menyatakan bahwa Bumi merupakan organisme hidup. yakni suatu superorganisme baik yang mencakup biotik maupun abiotik, biosfer dan lingkunganya sebagai kesatuan yang membentuk sistem pengaturan dan pemeliharaan diri.
Terdapat ciri umum kehidupan yang dapat ditemukan di bumi, yakni adanya pengurangan entropi. Pengurangan entropi ini terjadi di daerah sabuk penghantar bumi di mana medianya adalah wilayah berair dan atmosfer bumi. Di daerah ini terdapat aktifitas kehidupan yang melibatkan biosfer dan lingkunganya. Biosfer memanfaatkan energi dan materi yang terdapat dalam lingkungan bumi baik yang terdapat dalam di laut, udara dan kerak bumi. Aktifitas kehidupan ini juga disertai dengan pembuangan limbah menuju lingkunganya.
Hal ini memperlihatkan bahwa bumi merupkan sistem terbuka. Sistem terbuka menjadi ciri mendasar setiap organisme hidup. Dalam sistem terbuka, terjadi perpindahan materi dan energi dari sistem menuju lingkungan dan sebaliknya.
Pemikiran yang tertuang dalam hipotesis Gaia juga mengakibatkan perubahan mendasar dalam cara pandang manusia, baik terhadap dirinya sendiri maupun dunia di mana manusia hidup. Manusia adalah bagian integral Gaia yang turut serta dalam sistem pengaturan dan pemeliharaan diri tersebut menjadi kunci keberlangsungan Gaia dan manusia yang menjadi bagian integralnya.
Keberlangsungan spesies manusia beserta aktivitasnya sangat tergantung dari sistem pengaturan Gaia dan wilayah-wilayah inti Gaia tersebut. Dalam Gaia, manusia bersama unsur-unsur lain dalam Gaia bekerja sama membangun sistem pengaturan tersebut. Manusia turut dipengaruhi oleh sifat mendasar Gaia, yakni pemeliharaan homeostasis dan sistem sibernetika. Jika kehadiran manusia sampai merusak pengaturan Gaia, maka petaka sibernetik yang bersifat planeter tidak dapat terhindarkan. Itu juga petaka bagi manusia.
Jadi rusak dan lestarinya bumi salah satunya bergantung pada perilaku manusianya juga baik perilaku yang sifatnya fisik maupun spiritual, karena memang seperti dikatakan di atas tadi bumi telah kehilangan jiwa Gaianya.
KRISIS SPIRITUAL MANUSIA
Sejatinya manusia telah merindukan kehijauan pohon, gemercik suara air, tari-tarian ranting dedaunan dalam embusan angin, dan pertukaran oksigen yang diambilnya dari ruangan fotosintesis hijau dedaunan, yang bergantian mengambil karbon dioksida yang di buang dari hembusan nafas manusia.
Tapi kini manusia menyita semua alam ini dengan kerusakan-kerusakan, manusia menyita simpanan kekayaan alam sehabis-habisnya, hutan, gunung, sawah, lautan, semua dihilangkan tanpa memikirkan akibatnya.
Sebenarnya orang-orang terdahulu atau nenek moyang kita jauh lebih arif dalam membatasi jumlah kelahiran keluarganya, supaya tidak menghabiskan hasil hutan dan binatang buruan. Manusia dulu juga arif dalam mengelola alam, sebatas keperluan hidup sehari-hari, tidak mengambil sebanyak-banyaknya lalu di jual ke bagian alam lain demi kepentingan semaksimal mungkin untuk menghidupi tujuh keturunan keluarga besarnya sendiri.
Kerinduan akan alam yang asri menyiratkan kerinduan berinteraksi dengan makhluk hayati yang merupakan saudara hayati kita karena unsur-unsur biologis di tubuh manusia sama yang ada pada zat hayati lain. Krisis spiritual muncul ketika manusia jarang bersentuhan dengan alam yang menyediakan energi bagi kelangsungan hidupnya.
Manusia tidak lagi menyadari, betapa alam menyediakan dengan gratis, betapa watt matahari memberi listrik di siang hari, berupa juta kubik paru-paru mendapat oksigen dari udara yang mengalir dari darahnya, berapa juta mikroba dan insekta mengambalikan manusia ke alam keabadian sehingga kolera tidak merajalela. Ironis karena perkembangan cara mencari makan dengan mendapat gaji dan ekonomi pasar menjauhkan manusia dari perolehan makan langsung dari rantai alam.
Semakin berlimpah ruah benda mati yang manusia tumpuk sebagai harta benda, semakin menjauhkan manusia dari asal usulnya dan semakin kering spiritualnya. (Amin Fauzi)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
8:34 PM
0
komentar
Label: wacana
Kamis, Desember 27, 2007
Global Warming in Reflection

Di sadari atau tidak, diakui atau tidak, bahwa hidup sekarang masih bisa dirasakan kenyamanannya meskipun kalau dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu, kenyamanan itu telah memudar.
Mungkin saat ini, terkadang alam masih mengandeng gerak langkah kita, terbukti dengan murahnya fasilitas yang diberikan setiap detiknya. Kita bisa menghirup udara segar tiap pagi, angin masih senantiasa membelai kala gerah, seteguk dua teguk air bersih siap sedia di minum kala haus. Dua kali sehari masih diperknenkan menceburkan diri dalam air bersih kala kita ingin mandi. Kita masih bisa berteduh di bawah rindang pohon kala sang surya menyengat bumi. Begitu bersahajanya alam ini.
Namun apakah anda pernah berpikir sepuluh tahun kedepan bahwa semua fasilitas yang diberikan di atas sulit untuk ditemui, jangankan untuk mandi dengan air bersih, untuk mencari seteguk dua teguk air minum saja sulit. Kalau alam seperti ini bergolak bagaimana dengan nuansa kemesraan sosial ini?.
Kecurigaan ini bukanlah hal yang tidak mungkin, semuanya bisa terjadi, kecurigaan itu indikasinya sudah bisa ditemukan tiap harinya. Rentetan bencana bertaburan pemberitaanya di media, banjir, gempa, kekeringan, gagal panen, limpur lapindo, angin puting beliung, tsunami, dan masih banyak bencana alam lain yang menunjukkan bentuk interaksi alam terhadap kesombongan manusia.
Yaaa. Moderenitas terkadang membuat manusia sombong dengan apa yang dimilikinya. Hobi manusia modern mengkonsumsi barang-barang ternyata tidak seutuhnya direstui oleh alam. Teknologi yang digunakan untuk menunjang kenyamanan hidup dengan mengatas namakan efisiensi ternyata malah berbuntut pada kesombongan atas ketergesa-gesaanya.
Di jalan raya misalnya jutaan kendaraan berjubel membanjiri jalan, orang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi dari pada angkutan umum sekali lagi atas nama efisiensi (semoga bukan karena gengsi). Tapi yang terjadi bukanlah efisiensi melainkan kemacetan yang yang tiada henti, setiap pagi dan sore orang modern ini harus menyemut di jalanan.
Dalam sebuah kemacetan di temuaknaya berbagai persoalan alam maupun sosial. misalnya tergesa-gesa, membuang-buang waktu, emosi, pemborosan energi. Suasana bumi semakin panas karena langit tak kunjung sanggup memayungi bumi karena telah dicemari oleh emisi gas maupun karbon dioksida yang berlebihan, sekali lagi atas nama efisiensi.
Belum lagi fasilitas rumah yang serba lebih, misalkan AC, mesin cuci, kulkas, TV Komputer yang semuanya mengandung senyawa dalam menyumbang emisi gas ini. Kalau tiap rumah menggunakan fasilitas ini, berapa juta orang menyumbangkan pencemaran ini.
Akibatnya pun jelas, bumi semakin panas, iklim tak menentu. Kita tidak bisa membedakan lagi kapan musim hujan dan kapan musim kemarau, entah itu hujan maupun panas bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa kompromi.
Kalau sudah begini kita tidak bisa lagi menggunakan nilai-nilai. Musim yang seharusnya di agendakan untuk menanam atau memanen kebutuhan hidup sehari-hari tak kunjung jelas. Petani sulit untuk menanam padi, atau menanam apapun karena dirundung berbagai bencana tadi. Kalau para petani tidak menanam makanan pokok lagi, lantas kita mau makan apa?.
Bumi adalah salah satu planet yang hanya bisa dihuni oleh manusia, tapi kalau sudah panas, bergolak dan menolak keberlangsungan manusia, lalu mau tinggal dimana?. Merkurius dan venus terlalu panas untuk kita singgahi, mars terlalu gelap untuk ditempati, harapan satu-satunya adalah bumi. Tapi bumi kalau sudah tidak ditemukan kenyamananya, berbagai problem alam maupun social terus menggelayut di punggung kita, lalu mau kemana tinggal dengan lega?
Dalam kondisi seperti ini, makan sulit ditemukan, cuaca semakin panas, udara bersih untuk menghela nafas sulit ditemukan karena sudah bercampur baur dengan gas knalpot, untuk mencari seteguk air bersih saja sulit apalagi makanan.
Untuk memikirkan kebutuan pokoknya sendiri aja terseok-seok, dalam kondisi seperti ini yang menang maka dia yang bertahan jadi benar adanya. Sesuatu hal tidak mingkin bisa memikirkan orang lain. Yang ada hanyalah menggelegaknya mencurigai antar sesama, mpripat manuia saling menerkam, tidak ada lagi nuansa kemesraan, apa lagi kasih saying yang terjadi adalah bermusuhan. Kalau memang begini jadinya maka yang terjadi adalah PERANG….! (Amin Fauzi).
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
12:16 AM
0
komentar
Label: wacana
Jumat, September 28, 2007
Mana Untung, Mana Buntung

Setiap tahun Jawa Tengah akan kehilangan 2.500 ton produksi beras
akibat pembangunan jalan tol Semarang-Solo.
Untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain seperti Jawa Timur dan Jawa Barat dalam hal laju ekonomi serta memperlanjar jalur transportasi, pembangunan jalan tol Semarang-Solo adalah sebuah keharusan dan keputusan yang mutlak.
Ir. Danang Atmojo MT, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah mengatakan itu sebagai syarat mati, pasalnya jalur utama yang menghubunghkan kedua Kota tersebut sering terjadi kemacatan “makanya kita harus membuka jaringan baru,” ungkap pria yang ikut mengisi seminar tentang “Percepatan Pembangunan Tol Semarang-Solo Dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat” yang di selenggrarakan oleh Kelompok Diskusi
Wartawan Provinsi jawa tengah 25 Juli 2007 lalu.
Pembangunan jalan yang di anggarkan dana sebesar Tujuh Trilyun dan sudah direncanakan sejak tahun 2005 ini rencananya akan di realisasikan pada tahun 2007 dengan panjang sekitar 75,8 km sepanjang jalur anatara Semarang–Solo yang akan melintasi wilayah kota/kabupaten yang terdiri atas lima seksi yakni Tembalang-Ungaran (11,2 km), Ungaran-Bawen (11,9 km). Bawen-Salatiga (18,8 km), Salatiga-Boyolali (20,9 km). dan Boyolali-Karang Anyar (13 km). “sesuai rencana awal sebenarmya pembangunan ini di laksanakan tahun 2006, namun karena berbagi hal, sehingga di undur,” imbuh Danang.
Danang meyakinkan pembebasan lahan untuk membangun jalan tol Semarang-Solo tidak akan merugikan masyarakat. ”Dalam Perpres Nomor 36 Tahun 2005, pembebasan lahan bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum mengacu pada harga pasar,” kata Danang.
Masih menurut Danang, bahwa pembangunan akan membawa banyak keuntungan pada sektor ekonomi Jawa Tengah “semakin cepat pembangunannya maka semakin bagus,” imbuhnya.
Hal senada juga dijelaskan oleh Didik Sukmono, Ketua Komite Tetap Pengembangan Investasi Kadin Jawa Tengah, bahwa kalau ditinjau dari sisi ekonomi investasi Jawa Tengah sampai saat ini masih jauh tertinggal dari pada Jawa Barat dan Jawa Timur
Apalagi sampai akhir Agustus nanti one stop service akan di laksanakan di tiap-tiap Kabupaten, makanya kelancaran transportasi adalah suatu keniscayaan bagi masyarakat Jawa Tengah dan solusinya pembangunan jalan tol itu, “karena apabila tol itu benar-benar di bangun, paling tidak kita akan mendapatkan banyak keuntungan dalam hal laju industri, “ tutur Didik.
Didik mencontohkan, keuntungan pembangunan jalan tol adalah misalnya untuk memperlancar distribusi barang sehingga cost dapat ditekan, membuat acaun untuk membikin tata ruang yang lebih rapi, juga akan berdirinya rumah makan atau rest plece (tempat peristirahatan) di antara jalur tersebut, “namun kendalanya adalah adanya keberatan bagi pemilik tanah atau kendala ganti bagi pemiliknya,” imbuhnya.
Menurut Didik solusinya adalah selain ganti rugi uang juga berbentuk saham atau menyerehakan inbreng, “namun diprediksikan inbreng akan kembali dengan waktu sekitar 50 tahun yang akan datang,” imbuhnya lagi.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno menilai bahwa pembuatan jaringan baru memang salah satu cara untuk mengatasi kemacatan. Namun hal ini belum tentu bisa mengatasi masalah secara keseluruhan, baik aspek geografis, demografis, politis, ekologi, sosial masyarakat yang wilayahnya terkena proyek ini.
“Bagaimana dengan nasib para petani yang lahannya terkena proyek ini. Mereka hanya petani, meskipun diberi dana penggantian, mereka akan kesulitan karena hanya itu keahlian mereka, dan tidak punya ketrampilan dalam hal kewirausahaan,” imbuhnya.
Djoko mencontohkan, setalah ada tol Cipularang Jawa Barat saat ini akses lalu lintas memang relatif lancar. Namun kawasan yang dulu banyak usaha kecilnya (penginapan, rumah makan), sebagaian besar sudah tutup. “Untuk Semarang-Solo, dari Banyumanik hingga Bawen ada banyak SPBU, rumah makan dan penginapan, Setelah tol dibangun bagaimana? Ini juga harus dipikirkan,” ujarnya.
Masih menurut Djoko bahwa menurutnya, secara geografis maupun ekologis area yang akan dibangun jalan tol adalah wilayah pertanian, dimana lahan pertanian di daerah tersebut sangat potensial, dan 30 persennya adalah hutan lindung dan 10 persen terkena jalan tersebut yang akan dibangun.
“Kalau wilayah tersebut benar-benar akan dibangun efeknya bagi lingkungan akan berbahaya, kalau hutan-hutan itu ditebang, daerah bawah akan banjir, padahal daya serap hutan itu sangat tinggi” terangnya.
Apabila lahan tersebut akan dibangun, maka akan terbagun lima kali lipat dari lahan yang di gunakan, biasanya akan muncul bengkel, restoran, dan toko-toko disampinya terebut. “Sebenarnya Jawa Tengah ini mengidentifikasi sebagai daerah apa? Agraris atau industri? Kalau memang pertanian mengapa dipangkas habis-habisan?,” Djoko menanyakan.
Menurut Kepala Subdinas Sarana dan Prasarana Pertanian Jateng Hari Tri Hermawan, Jawa Tengah (Jateng) akan kehilangan 2.500 ton produksi beras per tahun akibat pembangunan jalan tol Semarang-Solo. Proyek yang melewati enam kabupaten/kota ini akan memakan 311 hektare areal persawahan. "Dengan hilangnya 311 hektare sawah, dalam setahunnya, Jateng akan kehilangan 2.500 ton beras," katanya.
Menurutnya, jumlah tersebut masih bisa bertambah, tergantung pelaksanaan proyek. Jika sesuai rencana, proyek tol Semarang-Solo akan dimulai pembangunannya awal 2007. Akhir tahun ini, ditargetkan proses pembebasan tanah sudah selesai. Enam daerah yang dilewati proyek ini adalah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga, Boyolali, Karanganyar, dan Sukoharjo.
Meski akan mengurangi produksi beras di provinsi ini, Badan Bimas Ketahanan Pangan setempat memastikan tidak sampai mengurangi ketahanan pangan Jateng. "Berkurangnya produksi beras akibat proyek tol tidak mengakibatkan Jateng minus beras," kata Gayatri Indah Cahyani.
Saat mengutip data Pemprov Jateng, dia menyebutkan, lahan sawah yang bakal terkena seluas 3.135.063 meter persegi. Sementara itu, lahan perumahan warga mencapai 1.097.137 meter persegi, tegalan 1.504.500 meter persegi, dan hutan 2.683.751 meter persegi. ''Dari data itu, dapat diperkirakan bahwa masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani yang paling terkena dampaknya,'' kata dia.
Lahan persawahan di Kota Semarang yang bakal terkena seluas 119.630 meter persegi. Kemudian di Kabupaten Semarang mencapai 1.644.815,5 meter persegi, Kota Salatiga (177.752 meter persegi), Kabupaten Boyolali (967.546 meter persegi), dan Kabupaten Karanganyar (225.320 meter persegi). ''Dengan hilangnya lahan garapan tersebut, nanti mereka akan menjadi pengangguran,'' katanya.
Jawa Barat, menurutnya, memiliki jalan tol sepanjang 237 km, Jawa Timur 62 km, DKI 106 km, dan Sumatera Utara 37 km. Panjang jalan tol di Jateng saat ini baru mencapai 25 km. Jika jalan Tol Semarang-Solo sepanjang 75,87 km dibangun, total panjang jalan tol di Jateng mencapai 100,87 km.
Jalan tol Semarang-Solo akan dibangun per lajurnya selebar 3,6 meter, bahu luar jalan selebar tiga meter, bahu dalam 1,5 meter, dan lebar median 5,5 meter. Dengan spesifikasi ini, lebar jalan tol Semarang-Solo minimal mencapai 40 meter.
Djoko Setijowarno mempertanyakan tujuan pembangunan tol untuk kepentingan masyarakat. ”Masyarakat yang mana? karena dalam sejarah selama ini tidak ada masyarakat sekitar jalan tol yang menjadi sejahtera setelah wilayah mereka dilewati jalan tol. Yang ada juga tanah mereka menjadi berkurang karena tergusur untuk pembangunan jalan tol,” kata Djoko.
Soal Peraturan Presiden (Perpres) No 36/2005 yang menjadi dasar pembangunan , kata Djoko, jelas tujuannya bukan untuk kepentingan umum, melainkan lebih untuk kepentingan bisnis. Seperti pembangunan jalan tol, lebih untuk memperlancar bisnis atau kegiatan ekonomi sekelompok orang atau golongan dari pada masyarakat, terutama masyarakat yang lahannya tergusur.
Selain itu, masyarakat juga tidak pernah merasakan manfaat dari adanya proyek-proyek tersebut. Mereka tidak bisa menikmati proyek tersebut dalam arti sesungguhnya, mendapatkan keuntungan atau kemudahan karena proyek tersebut. Mungkin satu-satunya ”keuntungan” mereka adalah dapat menikmati (baca: melihat) wujud proyek-proyek tersebut yang biasanya identik dengan modernisasi atau kemajuan teknologi.
Menurut Djoko Kalau memang terpaksa akan di bangun tol lebih baik membangun tol di atas jalan yang sudah tersedia meskipun mahal tetapi secara makro tidak mahal.
Berbalik dengan Djoko, Noor Achmad, anggota DPRD Jawa tengah komisi A menilai pembangunan jalan tol Semarang-Solo adalah hal yang mutlak karena untuk mengejar ketertinggaan dari daerah lain. “Tapi yang harus di lakukan pemerintah adalah harus adanya sebauah kesepemahaman bersama antara pemerintah dan masyarakat, yaitu dengan memberikan sosialisasi yang sejelas-jelasnya sehingga tidak terjadi alah paham,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Wahid Hasyim ini.
“Sosialisasinya juga harus transparan, sehingga masyarakat lebih mengerti dan memahami keuntungan maupun kerugiannya, baik secara ekonomis, sosiologis bahkan antropologis religius,“ imbuhnya. (Amin Fauzi)
*ulisan ini juga di muat di tabloid edisi 109 SKM AMANAT IAIN Walisongo Semarang.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
9:52 PM
0
komentar
Label: wacana
Yang Beda dari KKN PBA

Tujuan KKN adalah pengabdian masyarakat. Bukan proyek.
Halaman Auditorium I nampak ramai. Tempat yang biasanya sepi itu, Senin (9/7/2007), sekitar pukul 07.00 WIB dipenuhi oleh ratusan mahasiswa.
Bersama kelompoknya masing-masing, mereka mengikuti upacara pemberangkatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang segera diterjunkan di Kabupaten Kendal.
“KKN kali ini berbeda. KKN kali ini bersifat tematik, yaitu berkonsentrasi pada penuntasan buta aksara,” kata Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. Abdul Djamil, MA dalam sambutan upacara pelepasan KKN tersebut.
Memang, sejak tahun 2007 ini, 28 Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta di Jawa Tengah, bekerja sama dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah, mengarahkan orientasi KKN mahasiswa pada pemberantasan buta aksara (PBA).
Drs Mudhofi, M.Ag., sekretaris PPM IAIN Walisongo menegaskan, pada tanggal 12 April 2007, 28 Rektor perguruan tinggi dan Gubernur Jateng menandatangani MoU (Memorium of Understanding) atas program ini.
Kepala Renbang (Rencana dan Pengembangan) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Drs Jasman Hendratno, M.Si., sang penggagas program mengatakan, KKN PBA ini berawal dari kegelisahan melihat begitu banyaknya msyarakat yang masih menyandang buta aksara.
Penelitian yang dilakukan HDI (Human Development Index), katanya, Indonesia menempati posisi ke-111 dari 117 negara penyandang buta aksara di dunia. “Di Indonesia, Jawa Tengah menempati posisi kedua terbanyak setelah Jawa Timur.”
Sementara dalam catatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Subdin Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dan Olah Raga tahun 2007, di Jawa Tengah, angka buta aksara mencapai 2,690,225 jiwa yang terbagi dalam 35 kabupaten/kota.
Berdasarkan penelitian HDI dan catatan dari Dinas Pendidikan itulah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Inpres No. 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.
Jawa Tengah cepat menangkap instruksi presiden. Yaitu dengan menggandeng Mahasiswa KKN dalam program pemberantasan PBA tersebut. “Targetnya, setahun lagi tak ada penyandang buta aksara di Jateng,” tegas Jasman.
Sebelumnya, program serupa juga telah digalakkan. Yaitu dengan menggandeng berbagai organisasi seperti PKK, Muslimat, Aisyiyah, Fatayat NU dan sebagainya. “KKN ini merupakan salah satu cara agar lebih efisien dalam penuntasan buta aksara,” timpal Suwahyo, staf di PLS Diknas Jateng.
Model KKN PBA
Jelas ada yang beda dalam KKN PBA. Mahasiswa bisa berlega hati, karena tidak usah memikirkan membantu pembangunan fisk di Desa tempat mereka KKN.
Dalam KKN yang bekerja sama dengan Forkom (Forum Komunikasi) KKN Jateng ini, seluruh konsep, pengorganisasian dan koordinasinya diserahkan kepada perguruan tinggi masing-masing.
Ketua Forkom KKN Jateng Drs Subagyo M.Pd. mengatakan, konsep KKN PBA adalah mahasiswa diberi tugas khusus untuk melakukan bimbingan kepada masyarakat. “Dua mahasiswa membimbing satu kelompok belajar yang terdiri dari dua puluh warga.”
Tidak hanya dalam praktek di lapangan yang berbeda. Biaya dalam KKN PBA ini juga relative lebih ringan jika dibandingkan dengan KKN yang selama ini berlaku.
Jika dalam model KKN yang selama ini berlangsung mahasiswa harus merogoh kocek yang tidak sedikit, yang bisa mencapai pulahn juta, KKN PBA biayanya ditanggung oleh Pemerintah.
“Tahun 2007 ini Pemprov menyediakan 33 Milyar rupiah untuk KKN PBA ini. Perguruan tinggi hanya pelaksana,” tuturnya.
Mengenai besarnya biaya yang diterima oleh masing-masing perguruan tinggi, tergantung jumlah mahasiswa yang diterjunkan dalam KKN. Ukurannya adalah kelompok. Satu kelompok belajar terdiri dari 2 mahasiswa dengan anggaran Rp.3.320.000.
Karena itu, lanjut Jasman, untuk mengetahui jumlah subsidi per perguruan tinggi, tinggal mengalikan saja dengan jumlah mahasiswa peserta KKN yang ada.
“Kegiatan lain yang berhubungan dengan KKN, semuanya sudah ada anggaranya sendiri dan sudah diperhitungkan. Mulai pembekalan, transportasi, monitoring, semuanya sudah ada,” jelasnya.
Mudhofi kepada AMANAT menjelaskan, uang Rp.3.320.000 itu kegunaanya bukan cuma untuk mahasiswa, tapi untuk kebutuhan lain seperti living kost dan transport per mahasiswa sebesar 500.000 rupiah, jaket, topi almamater, buku panduan, alat tulis kantor (ATK) warga belajar, pembekalan, bahan anggaran pelaksanaan pengajaran, evaluasi, laporan akhir kegiatan dan transport monitoring untuk DPL.
“Di IAIN Walisongo ada 18 DPL. Tiap memonitoring dianggarkan Rp. 320.000 per DPL. Padahal tiap DPL wajib memonitoring sebanyak tujuh kali,” tambah Mudhofi.
Dan untuk tahun ini, tambah dosen Dakwah ini, IAIN Walisongo menerjunkan 360 mahasiswa di kabupaten Kendal yang tersebar di enam kecamatan, yaitu Sukerojo, Pageruyung, Plantungan, Gemuh, Ringin Arum dan Weleri. “Penempatan ini ditentukan oleh Dinas. Kita hanya pelaksana.”
Transparansi dana
Meski dana KKN PBA sudah di tanggung Pemprov., namun ternyata mahasiswa harus bayar juga. Selain itu, dana dari Pemprov juga disunat oleh pihak kampus.
Di IAIN Walisongo, peserta KKN hanya menerima Rp. 450.000 dari Rp. 500.000 yang seharusnya diterima. Sebelumnya, mahasiswa juga ditarik Rp.200.000. “Katanya untuk bayar transportasi,” kata salah seorang peserta.
Usut punya usut, uang Rp.50.000 yang disunat dari dana yang harus diterimakan kepada mahasiswa, adalah untuk biaya transportasi. “Lalu untuk apa uang 200.000 itu?” timpal peserta KKN yang lain.
Tak pelak, hal itu memunculkan pertanyaan diantara peserta KKN. Karena dana itu belum ada kejelasannya hingga sekarang. “Uang dua ratus ribu itu belum adapenjelasannya,” ungkap Zaqy Mubarok yang dibenarkan oleh Sidli Richanah.
Drs. Suriadi, MA., ketua PPM ini memang mengatakan, bahwa uang itu kembali kepada mahasiswa. Namun tidak dijelaskan secara rinci dalam bentuk apa.
Sementara Mudhofi mengatakan, uang itu digunakan untuk asuransi, konsumsi 7 kali dalam rapat koordinasi, Rp.100.000 untuk transport koordinator desa, Rp.150.000 untuk transport koordinator kecamatan, dan kunjungan kerja KKN.
Ketika AMANAT mencoba melakukan konfirmasi ke perguruan tinggi lain, memang ada yang membayar, tapi tidak sebesar IAIN. “Di UNNES ada biaya tambahan, tapi sedikit,” ungkap Subagyo dari Universitas Negeri Semarang ketika di hubungi via telepon..
Sementara perguruan tinggi lain, banyak yang gratis sama sekali seperti Universitas Muria Kudus (UMK).
Mahasiswa Bingung
Persoalan yang muncul dalam KKN model baru ini, tidak berhenti di sini. Karena tuntutan lain menghadap ketika para mahasiswa itu sudah diterjunkan ditengah-tengah masyarakat.
Persoalan itu adalah tuntutan bahwa satu mahasiswa harus bisa menuntaskan 10 warga buta aksara. Kalau IAIN Walisongo menerjunkan 360 mahasiwa, 3600 penyandang buta aksara harus bisa dientaskan.
“Mahasiswa diterjunkan di Desa selama 45 hari dan harus menyelesaikan kegiatan belajar mengajar kepada warga penyandang buta aksara selama 144 jam. Kalau tidak bisa dibuat kelas, mahasiswa harus mengajar dari rumah ke rumah,” ujar Jasman.
Kategori warga penyandang buta aksara, seperti dijelaskan dalam buku panduan, adalah orang yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung sama sekali ataupun mereka yang drop out kelas 1-3 Sekolah Dasar (SD).
Persoalannya, data penyandang buta aksara yang diberikan Diknas, belum tentu valid. Ini tentu membingungkan mahasiswa di lapangan. “Ketika saya cek warga yang ada di daftar, di lapangan banyak yang tidak ada orangnya,” keluh Muhammad Yusuf, peserta KKN di Desa Cepoko Mulyo Gemuh Kendal.
Akhirnya, Yusuf bersama kawan-kawan satu posko pun melakukan pendaftaran dan cek ulang terhadap data-data yang ada. Yaitu dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah.
Parahnya lagi, tak sedikit daftar penyandang buta aksara yang diberikan Diknas, sudah ditangani oleh Fatayat NU, Aisyiah dan PKK. “Jadinya ya rebutan,” kata Yusuf.
Yang tragis, adanya penolakan terhadap tim KKN PBA. Seperti yang terjadi di Desa Gebang, Tlahap, Gemuh, Kendal, dengan alasan tidak mau menerima delegasi dari pemerintah.
Ya, suka duka KKN PBA itu, memang resiko. Tapi yang jelas, semoga ini bukanlah proyek semata atau bahkan kelinci percobaan dari sebuah program, dengan mahasiswa sebagai tumbalnya. (Amin Fauzi)
* Tulisan ini juga diterbitkan di tabloid edisi 109 SKM AMANAT IAIN Walisongo Semarang
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
9:39 PM
0
komentar
Label: wacana
Rabu, Juli 25, 2007
Musik Kita

“Dunia tanpa musik, ga asyik,” ungkap salah seorang maestro dangdut Indonesia H Rhoma Irama. Pasalnya, walau bukan kebutuhan primer, tapi tanpa musik hidup bisa terasa hampa, jenuh dan sepi. Setiap hari ritme perjalanan hidup kita baik di rumah, kantor, bus selalu di iringi dengan musik apapun itu instrumennya.
Begitu pentingnya sebuah musik, hingga tepatnya tanggal 9 Maret juga di peringati hari musik nasional di negeri indonesia tercinta ini. Karena bicara soal musik tak hanya sekedar hiburan melainkan juga bisa sebagai instrumen kritik sosial yang mencerahkan.
Masih teringat dan terngiang sepuluh tahunan yang lalu, seperti Iwan Fals, Franky Sahilatua, Sawung Jambo dan Leo Kristy, dianggap sebagai ikon “musisi perlawanan” tanah air. Lagu yang di usung selalu memerahkan telinga para pejabat. Hingga pilihan bagi mereka cuma dua, mati atau bui.
Anehnya, lagu bertema ketimpangan sosial tersebut malah menjadi primadona. Ibarat virus, ia menularkan semangat perlawanan atau menggedor ruang kritis masyarakat. Pentas-pentas musik di kampuspun kesengsem. Dalam berbagai pentas, lagu-lagu “pembebasan” tersebut tak lupa dinyanyikan.
Namun seiring dengan perjalanan waktu, semangat tersebut telah berubah. Lagu dengan tema kritik sosial kurang diminati lagi. Musisi sekaliber Iwan Fals pun harus banting setir. Tak lagi bicara idealisme, namun juga menuruti selera pasar.
Apalagi akhir-akhir ini banyak bermunculan musisi-musisi baru dengan beraneka ragam lagunya, bak cendawan di musim hujan. Namun dari banyaknya lagu tersebut, tidak ada lagu yang bermuatan kritik sosial. Musisi baru tersebut tetap mengikuti selera pasar. Seperti halnya lagu cinta tetap menjadi selera pasar sampai dewasa ini.
Padahal, dari dulu sampai sekarang, ketimpangan sosial tak kunjung usai. Lagu iwan Fals berjudul “Galang Rambu Anarkhi” yang bercerita tentang kenaikan harga BBM yang berimbas pada rendahnya daya beli masyarakat, masih relevan hingga kini.
Idealisme dan pasar ibarat dua sisi mata uang, sehingga memadukan keduanya juga tak mudah dilakukan. Apalagi saat ini industri musik tak cukup memberi ruang para musisi yang masih setia mengusung tema kritik sosial dalam lagunya.
Idealnya tidak hanya tak hanya seledar ekspresi diri untuk menghibur, tetapi juga sebagai kritik sosial dan mencerahkan, lebih bagus lagi kalau berani menyuarakan penderitaan rakyat. Sayangnya, realitas pasar mengalahkan segala-galanya.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
3:40 AM
0
komentar
Label: wacana
Ratapan Pasar Ngaliyan

Keberadaan supermarket yang semakin banyak bertebaran di wilayah kecamatan Ngaliyan, semakin mendesak para pedagang lokal. Pasar tradisional nyaris terpinggirkan, Apalagi citra kumuh melekat padanya.
Sampah itu tampak berceceran diantara lorong yang memisahkan antara satu kios dengan kios lainnya, bau yang menyengat. Saluran got tidak mengalir, air melebar ke permukaan lantai pasar. Atap-atap pasar bocor, menjadi pemandangan sehari-hari di pasar ngaliyan. Ketika AMANAT berjalan–berjalan di sekitar pasar tersebut. Hanya tampak beberapa pembeli. Di bagian los pakaian hanya ada beberapa penjual yang menantikan kehadiran seorang pembeli.
Begitu juga yang tampak di pasar Jrakah, terlihat di bagian depan pasar, lima kios tutup sejak satu bulan yang lalu, dan ironisnya beberapa waktu yang lalu 85 los Pasar Jrakah dilalap si jago merah (terbakar) akibat saluran listrik yang konslet. Dan kini keberadaan dan keberlangsungan jual beli di pasar Jrakah di pindahkan di depan pasar atau tepatnya yang semula di jadikan tempat parkir.
Jauh-jauh sebelum peristiwa itu terjadi sebenarnya ada banyak beberapa kios yang nampak terbuka juga sepi pengunjung dan pembeli, kondisi lantai becek akibat hujan, kondisi atap pun juga banyak yang roboh sehingga kalau ada hujan turun air pun bocor ke dalam pasar.
Pasar tradisional, selama ini menjadi salah satu tulang punggung masyarakat kecil dalam berdagang. Tak terkecuali pasar-pasar yang ada di lingkungan kecamatan Ngaliyan Semarang.
Mengapa pasar itu di sebut pasar tradisional. Menurut Pudjo Koeswhoro Juliarso, Ir. MSA. Seorang peneliti pasar tradisional, Forum HABITAT (forBIT) Regional Jateng, karena “memiliki pola transaksi jual beli melalui proses tawar-menawar antara pedagang dan pembeli secara sederhana, biasanya di lakukan oleh masyarakat sekitar lokasi secara turun temurun,” jelasnya.
Menurut Pudjo, secara kultural pasar tradisional sebagai “media ruang interaksi” sosial budaya, media pertemuan lapisan masyarakat dengan para pedagang sayur-sayuran, rempah-rempah dan kebutuhan sembako lain yang di sediakan. “Semua ini bisa di peroleh dengan harga eceran yang mudah di peroleh oleh ibu rumah tangga,” imbuhnya. Dia menambahkan bahwa pasar tradisional tidak semata-mata sebagai fungsi pelayanan ekonomi tetapi sebagai tempat komunal kehidupan sosial budaya masyarakat.
Di lingkungan kecamatan Ngaliyan, menurut catatan pemerintah kota Semarang, terdapat 2 pasar tradisional. Pasar itu terdiri dari pasar Jrakah yang berada tepat di timur kampus I IAIN Walisongo Semarang. Selain itu, sebuah pasar di samping kantor Kecamatan Ngaliyan yang sudah terkena pelebaran jalan.
Kehadiran Pasar Modern
Namun kini keberadaan dan romantisme pasar-pasar tersebut terusik dengan kehadiran pasar-pasar modern atau pasar swalayan yang semakin bertebaran di sekitar Ngaliyan. Yaitu, kalau menurut KUKM (Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah) pasar modern adalah Pasar yang dilengkapi dengan bentuk bangunan fisik yang megah, fasilitas berbelanja yang lengkap, serta suasana yang aman dan nyaman. Barang-barang yang diperdagangkan bervariasi, bermutu baik dengan harga bersaing.
Namun, ada juga barang-barang tertentu yang dijual murah, dalam waktu tertentu untuk mengatasi persaingan yang cukup ketat. Harga barang di pasar modern relatif tinggi antara lain disebabkan oleh biaya investasi yang cukup besar untuk sewa atau pemilikan tempat usaha. Para pedagangnya sebagian besar terdiri dari pedagang golongan menengah ke atas dengan cara berdagang yang sangat profesional. Pasar modern biasanya dilengkapi dengan sarana hiburan seperti bioskop, mainan anak-anak, dan restoran, yang merupakan daya tarik tersendiri untuk merangsang kedatangan para pengunjung atau pembeli potensial.
Berawal dari Sarinah departement store yang berada di antara kampus II dan III IAIN Walisongo, kini di susul dengan kehadiran Swalayan Aneka jaya menghadap ke barat bertempat di KM. 1 arah Boja -Kendal. Selain itu di depan SMP 16, menghadap ke timur juga berdiri mini market Indomaret. Di selatan pasar Ngaliyan berjarak 100 meter, menghadap ke timur juga tampak berdiri ONO Swalayan dengan 3 lantai.
Kehadiran beberapa swalayan tersebut, sangat berpengaruh pada perkembangan dan keberadaan pasar tradisional. Pasar tradisional semakin sepi, Masyarakat sekitar cenderung memilih pasar modern dari pada pasar tradisional. Seperti halnya Bambang Riyanto (23) warga Margoyoso Ngaliyan, dia lebih suka membeli peralatan hidupnya di hypermarket. “Suasana lebih bersih, praktis, serta cukup efisien,” ujar Riyanto.
Masih menurut Riyanto, selain pasar modern itu bersih juga tidak perlu tawar-menawar seperti di pasar tradisional. “Selain itu kemasannya dagangannya juga cukup memikat dan menarik,” imbuh Riyanto.
Hal senada juga di ungkapkan oleh Sriyani warga Ngaliyan Semarang. “Membeli di swalayan tidak perlu tawar menawar, kalau mau ya di ambil kalau tidak mau ya sudah,” ujarnya. Menurut Sriyani membeli barang di pasar swalayan kebih nyaman dan menyenangkan karena barangnya bagus-bagus.
Keluhan pun datang dari para pedagang pasar tradisional atas kehadiran beberapa pasar modern. Seperti keluhan Ningsih, penjual buah-buahan, asli Ngaliyan. “Keadaan pasar terasa sepi, Cuma slentar-slentir orang dan segelintir orang yang membeli,” keluhnya.
Menurut Ningsih, kondisi di pasar Ngaliyan sejak didirikannya pasar-pasar modern terasa sangat berbeda dari yang sebelumnya. “Memang ada pengaruhnya sejak ada pasar modern, akan tetapi mengenai pasar buah tidak begitu ngaruh, karena paling-paling mereka membeli di pasar modern adalah mengenai kosmetik,” imbuh Ningsih.
Sama halnya dengan Bukhori, penjual pakaian dan aksesoris dari Tasikmalaya yang selalu mangkal di pasar Jrakah. Menurutnya, kondisi pasar semakin sepi, lantaran didirikannya beberapa supermarket di kawasan Ngaliyan. Pembeli semakin berkurang dari sektor manapun. “Para penjual lari menjadi buruh pabrik, akibat sepinya perdagangan,” keluh Bukhori.
Masih Bukhori, menurutnya orang yang mau belanja di pasar Jrakah hanya orang-orang yang usianya tua, jarang sekali remaja yang mau menginjakkan kakinya untuk berbelanja di pasar Jrakah. “Apalagi para remaja, jarang yang mau membeli di pasar tradisional karena mungkin kondisi kotor, bau busuk sangat berbeda bila di bandingkan dengan pasar modern,” imbuhnya.
Tergusur Jalan
Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitu nasib para pedagang di sekitar pasar Ngaliyan setelah keberadaannya terusik dengan munculnya beberapa hypermarket. Kini luka lara itu di tambah dengan program pelebaran jalan oleh Pemerintah Kota di sepanjang Jrakah-Mijen. Beberapa bagian kios pasar akan tergusur dengan adanya program tersebut.
Menurut Iswar Aminudin Kepala Bagian Jalan dan Jembatan DPU Kota Semarang, tahun ini rencana pembangunan pelebaran jalan di kawasan Ngaliyan dengan panjang 1,2 km dan lebar 26 meter. Yaitu sepanjang kampus 2 IAIN Walisongo sampai Depan Kantor Kecamatan Ngaliyan Semarang. “Sementara kelanjutanya di lanjutkan tahun depan sambil nyari-nyari dana untuk itu,” ucapnya.
Parjo (34) penjual makanan ringan di Pasar Ngaliyan merasa resah karena adanya program pelebaran jalan. “Warung ini akan segera tergusur sesegera mungkin,” keluh Parjo warga Ngaliyan ini.
Sementara menurut Sri Lestari penjual telepon seluler yang kiosnya bertempat di los Pasar Ngaliyan bagian depan dekat dengan jalan raya, akan di ganti dan di bangunkan di samping Puskesmas Ngaliyan.
Sri pun pantas khawatir dan tak nyaman. Lantaran tempat barunya nanti tidak akan seramai seperti saat sekarang. “Saya takut kalau tempatnya jauh dari keramaian pembeli,” keluhnya.
Berbeda dengan Ngatinem, wanita setengah baya penjual warung makan di depan pasar Ngaliyan merasa lega karena warungnya tak jadi di gusur. Pasalnya, pelebaran yang semula 5 meter menjadi 2 meter. “Saya merasa lega masih bisa berjualan di sini,” tandasnya sembari tersenyum.
Masih Mencari Tempat
Bersamaan dengan penggusuran beberapa bagian kios pasar, akan di ganti dengan tempat yang lain yang sewajarnya. “Tapi saat ini baru kita pikirkan untuk mencari tempat pasar yang baru dengan sewajarnya,” kata Slamet Pegawai Bagian Pasar dari Dinas Pasar Kota Madya Semarang.
Pasalnya, pelebaran jalan itu sampai sekarang belum sampai di depan Pasar Ngaliyan sehingga alokasi pemindahan pasar (kios) yang terkena pelebaran jalan baru di pikirkan jadi belum ada tempat yang pasti untuk tempat yang baru karena mengingat pelebaran jalan di depan Pasar Ngaliyan belum terlaksana. “Sambil mencari-cari dana untuk membangun pasar baru itu,” imbuh Slamet.
Akan tetapi keluhan dari beberapa penjual itu di bantah oleh Bambang Purnomo, SE Kepala Sub Bidang Perdagangan Kota Madya Semarang. Anggapan dari pemerintah bahwa dengan berdirinya pasar modern khususnya di daerah Ngaliyan banyak mendatangkan keuntungan bagi masyarakat. Kalau dulu ada pameo bahwa kedatangan pasar modern akan mematikan eksistensi pasar tradisional ternyata tidak. “Semua tergantung pada segment dan kebutuhan masyarakat,” ungkap Bambang
Menurut Bambang yang harus di lakukan antara penjual, pemerintah, dan masyarakat adalah adanya persatuan (integreted) antara satu dengan yang lainnya untuk berupaya sama-sama memikirkan dan mendukung adanya keberadaan baik itu pasar tradisional maupun pasar modern.
Karena bagaimana pun juga, pasar modern akan semakin tumbuh dari tahun ke tahun. Sebab mengenai izin pendirian pasar modern tergantung pada pemerintah kota mengizinkan atau tidak. Sekarang tidak ada yang mengatur bahwa kalau pasar modern itu harus didirikan di kota, kalau sebelum otonomi daerah itu ada. “Dengan dalih demi pemerataan ekonomi masyarakat,” imbuh Bambang. (Amin Fauzi) Amanat Edisi 106
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
3:29 AM
0
komentar
Label: wacana
Mahasiwa Hanya Penonton!

Pelibatan mahasiswa dalam Pilderek tak ubahnya hanya sandiwara. Karena suara senatlah yang paling menentukan.
Tahun 2003, masing-masing Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) memperoleh Statuta dari Menteri Agama (Menag) RI. Jilidan tebal tampak rapi itu berisi bab per bab, pasal per pasal, item demi item tentang kejelasan hukum atau anggaran dasar ke mana PTAI akan dibawa.
Setelah diteliti dan diverifikasi oleh masing-masing PTAI, statuta bernomor 59 itu menjadi pijakan dalam mengelola PTAI. Statuta yang disahkan pada 25 Februari 2003 oleh Prof DR Said Aqil al-Munawar MA, mengatur semua hal baik hak maupun kewajiban pemegang otoritas di Perguruan Tinggi Islam (PTAI) di seluruh Indonesia.
Salah satu bab dari statuta itu mengatur tentang pemilihan pimpinan PTAI. Berbeda dengan statuta sebelumnya, statuta baru ini dipandang lebih terbuka dan demokratis. Dalam statuta lama, pimpinan PTAI dipilih oleh senat yang bersangkutan. Sedang dalam statuta baru, semua civitas akademika dilibatkan termasuk mahasiswa, meski berbeda satu sama lain di masing-masing PTAI.
Di IAIN Walisongo, senat memutuskan bahwa tata cara pemilihan rektor dan dekan tertuang dalam Bab III Pasal 7. Pasal tersebut menjelaskan, pemilihan rektor dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap I untuk menjaring bakal calon rektor dan tahap II memilih calon rektor.
Tahap I dilaksanakan untuk menjaring bakal calon rektor yang diikuti oleh dosen tetap, mahasiswa program S-1 semester lima ke atas, mahasiswa program pascasarjana semester tiga ke atas dan mahasiswa diploma semester tiga ke atas, yang secara kumulatif, terdaftar pada semester di mana pelaksanaan pemilihan tahap I dilakukan. Suara seluruh dosen dan suara mahasiswa diberi bobot proporsi yang sama, yaitu 50:50 persen.
Sementara tahap II prosesi pemilihan rektor, diikuti oleh seluruh dosen tetap, wakil mahasiswa (BEMI & DPMI) dan seorang wakil karyawan. Pemilihan tahap II tidak dilaksanakan apabila dalam pemilihan tahap I terdapat bakal calon yang memperoleh suara lebih dari separuh bobot proporsi suara dosen dan atau lebih dari separuh suara kumulatif.
Aturan di atas, jelas berbeda dengan aturan sebelumnya (2002) yang tidak melibatkan mahasiswa sama sekali. Prosesi pemilihan hanya dipilih lewat representasi senat yang hanya terdiri dari beberapa gelintir orang
Meski dalam statuta dinyatakan pelibatan karyawan dan mahasiswa dalam Pilderek, namun masih sangat diskriminatif dan setengah hati. tidak semua mahasiswa dilibatkan. Hanya mereka yang semester lima ke atas saja diikutkan dalam prosesi Pilderek tersebut.
Mengapa mahasiswa semester lima ke atas? “Karena mereka paling tidak sudah mengerti peta perpolitikan kampus,” ujar Pembantu Rektor I, Prof Dr Ibnu Hajar M.Ed.
Kesan diskriminatif itu semakin kentara dengan munculnya Surat Edaran (SE) No. Dj.II/PP.10.9/482/2006 yang dikeularkan Departemen Agama RI mengenai revisi statuta yang dikirimkan ke seluruh PTAI se-Indonesia pada 13 Juni 2006.
Tiga helai surat revisi statuta yang di tandatangani oleh H Jahja Umar, Ph.D selaku Direktur Jendral BAGAIS tersebut terdiri dari 14 perubahan item. Salah satu item dalam SE tersebut membahas peran mahasiswa kaitannya dengan prosesi pemilihan pimpinan perguruan tinggi.
Ada salah satu item yang dianggap mempengaruhi peran mahasiswa yaitu Item No 8; “Mahasiswa sebagai pihak yang menuntut dan mengkaji ilmu di perguruan tinggi bukan merupakan komponen yang dilibatkan dan dimobilisasi secara langsung dan formal dalam proses penentuan pimpinan perguruan tinggi agama Islam”.
Revisi dalam item tersebut menafikan keterlibatan mahasiswa dalam Pilderek. Mahasiswa dikembalikan pada tugas asalnya yaitu menuntut dan mengkaji ilmu di PT tersebut.
Presiden BEMI Fauzun Nihayah menilai Surat Edaran itu sangat memojokan mahasiswa. “Mahasiswa diciptakan seperti halnya tahun 1970-an yang hanya bertugas menuntut dan menimba ilmu tanpa ikut andil dalam menentukan kebijakan,” katanya geram.
Ia menambahkan, SE itu juga masih membingungkan dan tidak tegas. Sebab masih ada benturan-benturan antarpoin. “Poin 8 menyatakan mahasiswa tidak dilibatkan. Tetapi di point lain, pemilihan dilakukan oleh civitas akademika. Otomatis mahasiswa ikut di dalamnya,” katanya.
Hadiq, salah satu dari Menteri BEMI juga merasakan hal yang sama dengan Fauzun. “Mahasiswa seharusnya dilibatkan dalam pilderek. eh, ini malah tidak diberi kesempatan sama sekali seperti ini,” keluhnya.
Beda Pelaksanaan
Meskipun statuta yang ditetapkan oleh Depag RI itu sama, namun aturan dan pelaksanaanya di masing-masing PT berbeda-beda. Pelaksanaan pemilihan Ketua STAIN Kudus, misalnya. Setelah suara mahasiswa dan dosen dikalkulasi, kemudian diserahkan kepada senat. Senat lalu melaporkan ke Departemen Pendidikan Tinggi Agama Islam (DIKTI). DIKTI inilah yang memutuskan siapa yang terpilih secara sah.
Di STAIN Kudus, Masyharuddin terpilih sebagai Ketua menggantikan seniornya Prof. Dr. Muslim A. Kadir, MA. Padahal arus bawah, mahasiswa, tidak mengehendaki Masyhar.
“Sebenarnya, wahana pemilihan langsung untuk rektor di kampus tidak berpengaruh sama sekali. Mahasiswa hanya dijadikan lipstick dalam pesta besar itu. Meski mahasiswa diibatkan, toh pada akhirnya senat lah yang memutuskan,” ujar Hamdan, mahasiswa STAIN Kudus 2003.
Lain Kudus lain Salatiga. STAIN Salatiga, pada Pilket (pemilihan Ketua) yang telah digelar 29 November 2005 dan 10 Desember 2005 kemarin, setelah sebelumnya dipilih senat, kini untuk pertama kalinya dipilih oleh dosen tetap. Namun sebelum itu, mahasiswa dilibatkan dalam proses penjaringan bakal calon ketua.
Di sana, ada 14 nama bakal calon yang akan diambil maksimal 6 besar dan minimal 3 besar, yang akan bertarung dalam Pilket periode 2006-2010. Pemilihan dilakukan dalam 2 tahap. Penjaringan bakal calon melibatkan mahasiswa semester 3 ke atas, karyawan dan dosen. Sedang dalam pemilihan calon, hanya dosen tetap dan 2 perwakilan mahasiswa yang memilih.
Menurut salah satu mahasiswa STAIN Salatiga, Harun, Pilket dipandang tidak aspiratif. “Mahasiswa hanya dijadikan kambing hitam, karena tidak dilibatkan secara keseluruhan.”
Di IAIN Sunan Ampel, Pemilihan Rektor (Pilrek) periode 2004-2008 dilakukan secara langsung oleh civitas akademika. Sejak awal Februari 2004, tata cara Pilrek sudah disosialisasikan dan mendapat tanggapan positif dari segenap civitas akademika.
Ada 3 tahapan pemilihan yang dilalui. Yaitu proses penjaringan bakal calon rektor (24/3/2004), penetapatan calon rektor (31/4/2004) dan puncaknya adalah pemilihan rektor itu sendiri (28/4/2004). Sebelumnya, masing-masing calon rektor harus menyampaikan visi misi dan program kerja di hadapan senat insitut dan sivitas akademika.
Mahasiswa semester satu hingga lima tidak dilibatkan dalam pemilihan, karerna dianggap belum memenuhi persyaratan. Mahasiswa semester lima ke atas yang diikutkan.
Aturan yang sama berlaku di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pilderek di sana melibatkan dosen, mahasiswa dan karyawan. Sistem pemilihan balon rektor dilakukan melalui tiga tahap, yakni penjaringan, penetapan dan pemilihan calon.
Persyaratan umum calon berusia setinggi-tingginya 61 tahun dan serendah-rendahnya menduduki jabatan fungsional Lektor Kepala. Bersedia dicalonkan menjadi rektor yang dinyatakan secara tertulis, tidak sedang menduduki jabatan rektor periode kedua berturut-turut. Dan secara khusus, calon harus berpendidikan S3.
Selanjutnya adalah proses penjaringan. Panitia Peilihan Rektor (PPR) memilih sekurang-kurangnya tiga orang calon, yang kemudian diajukan ke Senat Institut untuk dilakukan pemilihan lalu diserahkan ke menteri agama untuk diusulkan kepada presiden dan ditetapkan sebagai rektor.
Hampir sama sebenarnya pola pemilihan yang ada di setiap PTAI. Hanya perbedaan – perbedaan kecil yang tidak berarti yang mengemuka di setiap PTAI. Ini tentu karena perbedaan pengelolaan PTAI yang berbeda satu sama lain.
Suara Senat Suara “Tuhan”
Meski banyak perguruan tinggi sudah melibatkan mahasiswanya dalam Pilderek, apapun yang terjadi keputusan mahasiswa, namun toh pada akhirnya keputusan ada di tangan senat. Senatlah yang punya otoritas penuh.
Bahkan ada juga perguruan tinggi yang tidak melibatkan sama sekali mahasiswanya. Terutama sekali perguruan tinggi umum di bawah Diknas (Departemen Pendidikan Nasional) seperti halnya UNDIP dan UNNES Semarang yang baru saja melakukan Pilderek tahun ini.
UNNES, baru saja melakukan Pilderek pada April 2006 lalu. Mekanisme Pilderek diawali dengan rapat senat. Senat membuat tim khusus pelaksanaan Pilderek yang terdiri dari senat, BEM universitas, BEM fakultas dan DPM. Tim tersebut kemudian membuat regulasi atau Juklak Pilderek. Sementara panitia pelaksanaan Pilderek terdiri dari anggota senat, BEM dan UKM. Sedang yang mempunyai suara untuk memilih hanya anggota senat.
Hamdan, Pemimpin redaksi KOMPAS Mahasiswa UNNES menyesalkan mahasiswa tidak dilibatkan dalam Pilderek. “ Debat kandidat pun mahasiswa tidak dilibatkan. Kecuali ketika secara informal BEM Univesitas dan BP2M mengadakan debat kandidat rektor secara independen”.
Nasib Pilerek di UNDIP tak jauh berbeda dengan UNNES. Mahasiwa sama tidak dilibatkan. Namun agaknya dibanding UNNES, UNDIP lebih mendingan karena debat kandidat calon rektor di adakan secara terbuka. Semua civitas termasuk mahasiswa boleh ikut. Tapi, “Lagi-lagi dalam Pilderek, senat lah yang menentukan,” ujarnya kecewa. *** AMIN FAUZI, Skm Amanat Edisi 107
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
3:17 AM
0
komentar
Label: wacana
Selasa, Juli 10, 2007
SEDEKAH BUMI DAN PEMANASAN GLOBAL
Tradisi dan budaya seperti sedekah bumi yang di laksankana oleh masayarakat pesedaaan sebelum memanen tanaman sebenarnya bukan hanya sebuah adat, rutinitas ataupun sesembahan tanpa makna, akan tetapi punya nilai filosofi yang sangat agung bagi ekologi kehidupan. Upacara sebelum menabang pohon ini yang di lengkapi piranti-pirantunya pun bukan hanya sekedar pelengkap upacara akan tetapi mempunyai lebih akan nilai-nilai. Sebuah nilai dalam rangka mempertahankan atau melestarikan alam ini.
Mengingat akhir-akhir ini banyak bencana menghinggap di bumi Indonesia ini seperti banjir melanda, cuaca di Indonesia panasnya kian menggila, bukan semata sebuah takdir alam, akan tetapi itu semua juga dikarenakan oleh ulah manusia yang bertangan jahil dan punya pikiran pendek. Salah satunya adalah penebangan pohon yang semena-mena tanpa mengikuti aturan yang berlaku yang sering disebut dengan illegal logging . Mereka bisa menebang tapi tak mampu untuk menanam. Akibatnya pun jelas. Banjir, gempa, kebakaran hutan, yang pada akhir-akhirnya alam ini rusak.
Manusia telah kehilangan nilai spiritualnya. Manusia sekarang hanya korup yang terdogma entah dimana rasa saling meyayangi sesama makhluk tuhan, entah sesaman manusia, hewen ataupun tumbuhan. Kini kian hari kian sirna.
Pada saat musim kemarau panas matahari sangat menyayat kepala, kebakaran mudah dimana-mana. Area untuk berteduh selit ditemukan, tumbuhan dan pepohonan yang senarnya di tanam oleh nenek moyang kita dahulu kini berganti gedung-gedung pencakar langit dan tanah lapang tanpa hiasan dedaunan.
Yah. Sebanarnya orang-orang dahulu punya cara dan budaya yang sangat luhur bagaimana menghargai makhluk tuhan termasuk tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Cara ini di lakukan agar bumi ini senantiasa subur oleh kehijauan pohon agar tidak terjadi bajir dan sebgainya. Dan nilai itulah yang sebenarnya saat ini mulai di hanguskan oleh masyarakat sekarang ini.
Read More......
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
4:44 AM
2
komentar
Label: wacana
Kamis, Juni 21, 2007
wejangan
Read More......
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
5:16 AM
0
komentar
Label: wacana
Rabu, Juni 20, 2007
Reading Habit

We often hear idiom that “book is window of the world”, “be accustom to giving book as a present”, and the other. There are many idioms which have meaning that we suggested to reading any more.
As we know that reading is very important in our life, because there are many advantages that we have pick it up. And also writing, there are many critics delivered by writing. He was across space, time and also nations in this world.
Like Ibnu Rusyd and al-Ghozali debated, we are never luxury if this idea never published in this world by writing. To write one idea we have to read any more, reading of text or reading in the reality. Because reading is one process of thinking space, how to support our mind and to think any more.
If we visit this country, we will look somebody in every where, for example in bus, stopping place for public vehicles, garden and in public place, they read book and newspaper.
Taufiq Ismail research about Indonesian people who have study abroad (
Ironically, this habit it doesn’t happen in
Physically, we can say that Indonesia is modern society, many products from advance country very is easy to find here, like building style, car, fashion until the kind of food. Only used a television program and advertising, that product and service become a consumption every day. However, all products from advance country doesn’t be imitated by Indonesian society, reading and writing habit doesn’t become a culture here.
Therefore, it’s not wrong if UNDP survey in 2003 was clarify about Indonesian achievement. The result fr0m this survey about reading society interest in this world has position number 39 from 41 country.
There are many reasons Indonesian society weakness in a reading and writing interest. Firstly, Indonesian society still stick with an oral culture, not literary culture with the result that society more accept knowledge from watching and hearing. It doesn’t come from reading and writing.
Whereas, watching sometimes make a passive thinking just accept and imitate. In a long time, power of imaginary will weak slowly and the new ideas difficult to improve. It is not wrong if accessory from the other country so easy to be wear in Indonesian society, and serious condition that the television material is more uneducated and full with gossip thing.
This condition return with a literary culture. Literary people base them knowledge with reading and writing. This process can make abstract thinking, we can see the phenomenon in every sides, not only surface side but also the sustentions. Because reading can open perception thinking, stimulate imagination.
Secondly, Indonesian society decrease of effort to buy books and magazines. Our society is more pleasure to buy accessories than the books, They often visit in shopping center than library or book store. On the other hand, development system in this country it is not balance between mall and book store or library also can influence reading energy of society.
Whereas, actually in holy book, every religion suggests to read anymore. For example Islam religion in Al-Qur’an, the first revelation goes down this world command to reading.
As we know that “knowledge is theoretic paradigm, what should be done and why, Skills is how to do it and curiosity is motivation, “curiosity to do it”. in order to success become a habit in our life, we must get that component. Amin Fauzi
Read More......
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
4:51 AM
0
komentar
Label: wacana
We Need Good Law, Than Pancasila
Historically, Pancasila as long as we understand as a basic of nation and unity in diversity which is having magic and divine power so that we can’t disturb it.
Existence of Pancasila since was born, as if become an absolute respectable. Moreover, at the Orde Baru government, the person who is assumed anti Pancasila, can be catch and entered it in the prison.
So, can’t Pancasila give a power for this nation? Whereas, the reality sometimes Pancasila is used as a tool of politics in authority to do and legalize for a self-interest.
Actually, if we look reality in this nation, basic nation is not so important for us, but we more need a good law. Because law is arrange society. Because Pancasila is just philosophy of life. Philosophy can appear a dispute and new conflict.
Therefore, in the advance country there is no basic nation but there is a law. For example in Australia, basic nation is nothing but there is a clear law like KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) in Indonesia, the function arranges how to make relation between one person and the other so that it become a peaceful.
For example like first sila, the belief for God Almighty. If only there is somebody said that not belief for god almighty or may be atheist. Can’t they become Indonesian citizen? That is a problem.
If somebody doesn’t belief to god, it is not nation business but private right. We have religion or not as long as we never tricking, killing for somebody else, it does not make a sense. There is no Pancasila, it doesn’t matter. Sometimes people are killing each other because of philosophy fighting about Pancasila interpretation. Although Pancasila ever has role for unity in diversity on Indonesian history, Ideality unity has to arranged in law because law is more important than Pancasila.
When Orde Baru government, Pancasila used to fight PKI (Partai Komunis
Historically, because Indonesian people like symbol, may be Soekarno creates Pancasila to give symbol. Symbol needs to make unity this nation and symbol of struggle. But now, the more important thing is practice, it means clear of law.
Principally, if somebody has good characteristic, certainly he also will have good attitude although without Pancasila. Actually, the important thing is law, which is scope all of every life aspect human being. Because Pancasila just philosophy of life. Pancasila it’s good, but don’t forget that law is more important. Because it arranges a journey in the society.
Pancasila without UUD (Undang-Undang Dasar) doesn’t meaning. On the contrary, UUD without Pancasila is doesn’t matter. UU is more important than Pancasila. More better between Pancasila and UUD complete each other. But if we make rational and practice, actually there is Pancasila or nothing it is no problem. Because UU is more important than the others. Because Pancasila is symboling it doesn’t consequence that law is more significant. Amin Fauzi
Read More......
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
4:32 AM
0
komentar
Label: wacana
