
Sabtu, 9 Mei 2009, Jarum jam sudah neunjukkan pukul 21.15 WIB. Air Mancur yang memancar dari dari 14 titik semburan setinggi 30 meter sudah dihentikan. Namun para muda-mudi masih belum beranjak dari tempat itu.
Mereka terus saja duduk-duduk di sekitar kolam, maupun di atas rerumputan. Beberapa hari terakhir, bundaran Tugumuda hampir selalu dipenuhi pengunjung, khususnya pada malam hari. Berbagai aktivitas dilakukan masyarakat di tempat tersebut. Mulai dari sekadar nongkrong, jalan-jalan, hingga berfoto di sekitar taman. Tak jarang pula, terlihat anak-anak berlari dan bermain bebas di tempat itu.
Di senja hari, juga banyak muda-mudi Semarang yang mengahbiskan waktu di sini. Tempat ini semakin banyak difungsikan oleh publik, seperti pengambilan foto dalam pre wedding, diskusi para mahasiswa atau tempat kongkow-kongkow para komunitas-komunitas kecil di Semarang.
Pesona yang Memancar
Kini, taman tuga muda tidak lagi sepi dan berbau apek dari air kolam. Dalam sebulan terakhir pesona Tugu Muda kian memancar. Lampu sorot terang benderang menyorot awak tugu muda yang gagah.
Selain itu, taman tertata apik dengan tanaman berbunga baru, air mancur dengan 14 semburan setinggi 30 meter menambah eksotisme monumen pengingat Pertempuran Lima Hari di Semarang era perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dulu.
Kawasan tugu akhir-akhir ini semakin menandaskan sebgai tempat wisata keluarga, di sekelilingnya banyak bangunan-bangunan yang menarik untuk dikunjungi. Ada Gedung Lawangsewu dengan arsitekturnya yang khas Eropa. Di seberangnya ada Gereja Katedral dan Museum Mandala Bakti.
Bergeser sedikit ada Wisma Perdamaian, Pasar Bulu dan juga Gedung Pandanaran, yang lantai pertamanya terdapat perpustakaan umum dan semua tempat-tempat itu layak di kunjungi oleh masyarakat.
Oase Baru
Bagi remaja-remaja Semarang dengan pembaharuan taman ini menjadi daya tarik sendiri, Yosi Oktianto misalnya, bocah berusia 9 tahun ini tampak terus berlari mengitari sekitar taman beserta kakak dan adik sebayanya besama keluarga, sesekali mereka mendekati kolam ingin merasakan tempias air mancur. Bersama teman-temannya Yosi seolah mendapatkan oase kebebasan bermian baru di tempat tebuka.
“Di sini tempatnya indah, dan asyik untuk bermain anak-anak. Di Semarang sekarang jarang ada tampat terbuka seperti ini, kalaupun ada tempat bermain sekarang harus bayar dulu,” ujar Ibunda Desy, Ibunda Yosi sembari mengawasi anaknya.
Hal sama juga dilakukan oleh Indah Fitriyani (21), bersama teman-teman sekomunitasnya ia acap mengadakan diskusi-diskusi kecil di tempat ini, “Diskusi diruang terbuka seperti ini rasanya lebih fresh dan mencerahkan dari pada di ruangan,” ujar Mahasiswi fakultas Hukum Universitas Dipenegoro ini.
Senin, Mei 18, 2009
Tugu Muda, Oase Baru Remaja Semarang
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
11:58 PM
0
komentar
Kamis, Maret 26, 2009
Hilangnya Fanatisme

Kalau kita mau menegok sejarah hari-hari kampanye Pemilihan Umum dulu, serasa ada kecemasan yang menggelayut di dalamnya. Terdapat rasa kehawatiran besar akibat panasnya suhu politik waktu itu.
Sebab ketika masa-masa kampanye, masalah yang menyangkut keamanan menjadi riskan, bentrokan pendukung antar Partai Politik acap meletup, perilaku anarkisme senantiasa menghantui. Orang rela berbuat apapun, sampai bentrok demi sebuah partainya, fanatismenya terlalu besar.
Bagaimana dengan sekarang? Menengok kondisi kampanye Pemilu legistatif 2009 pada minggu awal, sementara terlihat tenang-tenang saja, tidak ada kekhawatiran sedikitpun mengenai keamanan dalam kampanye. Semuanya terlihat aman, damai, nyaman. Imbuan dari berbagai pihak untuk bersikap santun, terasa sangat dipatuhi.
Kampanye nampak relatif damai, mungkin karena sepi peminat, banyak yang acuh terhadap kampanye besar-besaran. Bahkan sekarang banyak calon legislatif (caleg) yang mengeluh, untuk meramaikan kampanye pencalonannya, para caleg merasa kesulitan untuk mengerahkan masa. Tanpa adanya akomodasi dan transportasi yang jelas, para masyarakat enggan untuk datang. Mereka lebih senang menghabiskan waktunya untuk aktivitasnya sendiri.
Bahkan ketika menghadiri kampanye, yang menjadi pusat perhatian bukan para caleg atau pemimpin partai yang berorasi, melainkan para artis yang menjadi penghibur kampanya. Padahal, dahulu, kampanye adalah ajang musim berkobarnya fanatisme partai, tidak sedikit orang yang berdarah-darah, demi mengahadiri kampanye partainya.
Bisa jadi ini dikarenakan hilangnya fanatisme masyarakat kepada partai politik. Atau bisa jadi sudah tidak ada keterlibatan hati dalam mengikuti kampanye, sehingga apa yang dikoar-koarkan oleh calon legislatif dianggap angin lalu belaka. Karena mengaca pada kepemimpinan sebelumnya banyak kader dari partai tersebut, ketika sudah duduk di singgasana parlemen lupa akan kepentingan rakyat kecil, atau bahkan banyak yang terjerat kasus korupsi.
Sehingga ketika ada kampanye tebuka, masa acuh terhadap orasi yang disampaikan oleh para caleg, dan lebih menarik perhatian artis yang datang karena memang benar-benar menghibur bukan mengumbar janji.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
5:47 PM
0
komentar
Rabu, Maret 25, 2009
Nyanyian kenegaraan dari Franky dan Garin

Permasalahan Kenegaraan makin akut,
sistem dianggap perlu di Restorasi dan di Revolusi
Pancasila rumah kita// rumah untuk kita semua// nilai dasar Indonesia // rumah kita selamanya// untuk semua piji namanya // untuk semua cinta sesama // untuk semua keluaerga menyatu // untuk bersambung rasa // untuk semua saling membagi.
Sembari memetik senar gitar, Franky Sahilatuha dengan syahdu melantunkan lagu berjudul “Pancasila Rumah kita” di atas dengan penuh hikmat. Para pengunjung tarpana dan memfokuskan tatapannya pada Franky, ditengah-tengah lagu, masih dalam alunan dentingan gitar, Garin Nugroho seorang sineas Indonesia menimpalinya dengan bercerita tentang kondisi kenegaraan baik ekonomi, politik, sosial, pendidikan, kemiskinan yang masih membalut negeri Indonesia.
Usai Garin bercerita, pengunjung, disuruh untuk melihat lirik lagu tersebut dalam slide kemudian bernyanyi bersama-sama.
Ya. Itulah acara pembukaan acara “Ngobrol bersama Garin Nugroho dan Franky Sahilatuha” yang dilaksanakan oleh Lembaga Studi Pers dan informasi (Lespi) di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang pada Senin, 9 Maret 2009 lalu.
Acara ini sebenarnya salah satu rangakaian acara yang di gagas oleh Garin dan kawannya-kawannya melaui lembaga “Pelangi Perubahan” yang dimilikinya. “saya menyelenggarakan acara serupa di berbagai tempat lain, baik di sekolah, pesantren, misionaris atau di tempat-tempat pementasan seperti ini, dengan tujuan memberikan pendidikan kewarganegaraan bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui nyaian dan dongeng-dongeng perubahan, Franky dan Garin senantiasa menyemai nilai kenegaraan pada masyarakat. Karena menurut Garin, pada saat ini, sulit ditemui warga Indonesia yang mempunyai jiwa negarawan.
Banyak masayarakat Indonesia yang bisanya hanya mengkonsumsi apapun. baik barang, tayangan tanpa menimbang-nimbangkanya “kita sulit menemukan warga negara, tapi yang banyak warga konsumen,” tandas Garin.
Terlebih masih menurut Garin, bahwa banyak politisi kita yang seharusnya menyelemakan masyarakat untuk berbudaya konsumtif, malahan menjadi ikon untuk mendukung budaya tersebut.
Banyak politisi atau pejabat kita tidak menjalankan profesinya demi kepentingan rakyat, malahan banyak yang menjadi makelar, mereka rela menjual apapun yang penting meraka untung, “minyak, kebiajakan, idealisme dan sebagainya. Pilitik mereka adalah politik makelar, yang nilainya hanya ditentukan uang dan massa” imbuh sutradara film Opera Jawa ini.
Banyak ketimpangan yang terjadi di negeri ini, melalui lagu dan dongengnya Franky dan Garin mencontohkan fenomena-fenomena masyarakat kecil diluar jawa seperti di Irian, Sulawesi, Ende Flores dan sebaginya yang dibentur-benturkan dengan perilaku-perilaku pejabat dan politisi.
Banyak juga politisi-politisi kita yang sudah mencapai puncak kepamapannya, telah kehilangan tujuan atau awalnya, “yang lebih ironis mereka sudah mati rasa, dan tidak punya air mata, untuk menangisi kemiskinan dan ketertinggalan yang senantiasa mendera rakyat Indonesia,” tukas alumnus Institut Kesenian Jakarta ini.
Revolusi dan Restorasi
Sementara ditengah-tengah lagu-lagu dengan kritik sosialnya, Franky Sahilatua menimpali apa yang disampaikan oleh Garin, bahwa untuk menjembatani permasalahan yang sangat kompleks bak benang kusut ini, seperti birokrasi, koruspi dan kemiskinan ini. Hal yang perlu dilakukan menurut Franky adalah Restorasi dan Revolusi.
Restorasi berasal dari kata to restore, menurut Webster’s Third New International Dictionary to restore diberi arti to bring back or to put back into the former or original state, atau to bring back from a state of changed condition. Jadi menurut Webster restorasi bermakna mengembalikan pada keadaan aslinya, atau mengembalikan dari perubahan yang terjadi.
Bagi Franky restorasi adalah penataan ulang, baik sistem kewarganegaraan, politik, ekonomi maupun maupun pemerintahan. Sedangkan bagi Franky yang perlu direvolusi adalah sistem birokrasi Indonesia yang kian akut dan kian tak terjamah oleh rakyat.
“Untuk bisa menempuh jalan itu, dalam waktu dekat minimal hal yang bisa dilakukan adalah memilih pemimpin yang mempunyi falsafah hidup (multikulturalisme) dan pemimpin yang bisa berpipikir, bertindak dan bekerja secara keras,” ujarnya penyanyi Perahu Retak ini.
Sebagai individu, untuk bisa membantu dan membesarkan bangsa Indonesia ini, pesan Garin. Agar kita menjadi negarawan-negarawan dalam hal apapun “ artinya dengan profesi apapun kita harus tetap professional menjalankannya,” sarannya.
Diskusi yang dipimpin oleh Wisnu Tri Hnggono ini, peserta tampak antusias dan terpukau mengikuti acara tersebut. Di akhir acara, panitia membagikan pita merah putih untuk ditalikan di lengan peserta. Sementara Franky Sahilatua mengirinya dengan lagu ciptaanya yang berjudul “kemesraan” dan diikuti bersama-sama peserta.
Di tengah-tengah lagu kemesraan, Garin berucap “tujuan gerbong kemerdekaan, adalah ketika kita bisa bermesraan di anatara semua rakyat di Indonesia, untuk bisa bisa sejahtera bersama dan menebar senyum bagahia,” tegasnya. (I10)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
9:19 PM
0
komentar
Jumat, November 21, 2008
Memotret Grobogan dari Jalan

Artikel ini dimuat juga di harian Suara Merdeka pada Kamis, 13 November 2008
SUDAH menjadi kesan umum, bahwa Kabupaten Grobogan identik dengan jalan rusak. Kesan tersebut terus tertanam sampai saat ini, apalagi saat musim hujan seperti sekarang.
Kesan tersebut bukan bualan belaka, melainkan ada fakta empiris yang bisa membuktikannya. Menurut data statistik, dari 213.246 kilometer (km) jalan provinsi, hanya 18.700 km (8,8 %) saja yang keadaannya masih baik.
Selebihnya, 126.666 km (59,4 %) dalam keadaan tidak baik, bahkan 67.880 km (31,8 %) dalam keadaan kritis. Belum lagi kalau melihat kondisi jalan kabupaten yang totalnya mencapai 880.100 km, sebagian besar dalam keadaan rusak, bahkan sebagian lainnya rusak berat.
Kondisi seperti itu sangatlah memprihatinkan. Apalagi Kabupaten Grobogan kalau dilihat dari segi geografis terletak di antara persimpangan kota lain, seperti Kudus, Demak, Kota Semarang, Salatiga, Solo, dan Blora.
Posisi itu menunjukkan Grobogan memiliki peran vital dalam penggunaan jalur transportasi, terutama dalam peta jalur perdagangan. Peta jalur seperti itu, kalau dimanfaatkan secara maksimal, bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi pemerintah daerah (pemda) maupun masyarakat setempat.
Ada kemungkinan, karena letaknya di tengah-tengah persimpangan, Gro-bogan bisa digunakan untuk tempat transit. Peran ‘’transito’’ itu juga menyangkut jalur wisata antardaerah sebagai potensi yang membuka kemungkinan penanaman modal di bidang jasa, perhotelan, rumah toko (ruko), dan lain-lain.
Selain itu, Grobogan juga potensi terbesar dalam bidang pertanian di Jateng. Bahkan sejak dulu Grobogan dikenal sebagai lumbung padi terbesar kedua di Jateng setelah Cilacap. Areal persawahan di kabupaten itu seluas 60.349 hektare atau sekitar 6,04 persen dari seluruh lahan sawah di Jateng.
Hasil pertanian seperti kedelai dan kacang hijau menempati urutan kedua di Jateng, bahkan untuk komoditas jagung, Grobogan menjadi sentra terbesar di Jateng.
Selain tanaman pangan, Grobogan juga menjadi sentra produksi buah-buahan, terutama mangga, belimbing, dan pisang; serta andalan untuk tanaman perkebunan seperti tembakau, kapas, dan kelapa hibrida.
Pariwisata
Di bidang pertambangan, kabupaten itu memiliki deposit besar berupa batu gamping, pasir berbatu (sirtu), tanah liat, gipsum, dan posfat. Belum lagi potensi pariwisata seperti Bleduk Kuwu, Air Terjun Widuri, Api Abadi Mrapen, dan Waduk Kedungombo yang statusnya milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.
Potensi-potensi alam itu, kalau tidak didukung oleh sarana infrastruktur dan transportasi yang memadai, hanya akan “teronggok” sia-sia. Aset dan po-tensi itu menjadi tidak menarik untuk dilirik oleh masyarakat, karena sarana transportasi yang menghubungkan ke sektor-sektor terkait tersebut tidak memadai.
Dengan kondisi jalan seperti itu, wajar bila sampai saat ini Kabupaten Grobogan masuk kategori daerah mis-kin di Jawa Tengah, meski di sisi lain mendapat predikat gudang padi.
Memprihatinkan, beberapa aset daerah yang dimiliki tidak “terjamah” oleh masyarakat luas hanya karena jalan rusak yang setiap waktu bertambah parah.
Kalau kondisi seperti itu terus dibiarkan, ada kemungkinan roda perekonomian Kabupaten Grobogan akan terus melemah, dan predikat sebagai daerah miskin akan terus disandang, karena lambat laun perputaran sektor ekomoni akan mati.
Obsesi Grobogan menjadi kota perdagangan (bisnis) dan wisata seperti yang dilontarkan oleh Bupati Bambang Pudjiono akan sia-sia, jika tidak diimbangi dengan rencana sistematis rehabilitasi jalan secara total.
Perhatian Utama
Berkaca kepada kondisi tersebut, tampaknya peran infrastruktur sangatlah vital. Karena itu, sektor tersebut harus lebih diperhatikan daripada sektor-sektor lain. Harapannya, setelah fasilitas jalan di Kabupaten Grobogan ditata dan ditangani secara baik dan memadai, akses menuju kemajuan pada sektor lain akan mudah dibuka.
Sektor pertanian, perindustrian, dan pariwisata, mutlak membutuhkan dukungan infrastruktur transportasi yang memadai. Secara sederhana, bagaimana bisa menawarkan Objek Wisata Bledug Kuwu, Api Abadi Mrapen, dan Waduk Kedung Ombo misalnya tanpa diimbangi dengan jalan mulus.
Apalagi di era otonomi daerah seperti sekarang, obsesi demi kemajuan suatu daerah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Daerah dituntut untuk memacu penggalian potensi-potensinya, antara lain dengan menggaet investor.
Pemerintah-pemerintah kabupaten kini terkondisi untuk menawarkan daerahnya melalui berbagai media; dari leaflet hingga internet. Juga dengan berbagai kemudahan yang memangkas kekakuan belenggu birokrasi. Sekali lagi, itu mesti diimbangi dengan ketersediaan prasarana vital transportasi.
Grobogan masih belum bisa melepaskan diri dari citra jalan rusak yang parah. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan masalah tersebut berbagai pihak juga harus dilibatkan, baik dari pihak pemerintah, para ahli, maupun masyarakat luas, untuk sama-sama memikirkan kembali perbaikan jalan yang rusak.
Masalah kerusakan jalan yang terjadi terus-menerus itu, tidak semata-mata karena kurangnya perhatian maupun dana dari pemerintah, tapi juga karena struktur tanah di Grobogan yang labil. Apalagi saat musim hujan, jalan akan mudah ambles.
Oleh karena itu, pembangunannya harus dicarikan pola dengan konstruksi yang pas untuk tanah yang labil tersebut. Dalam hal itu, peran ahli geoteknik perlu dimaksimalkan. Semoga, pokok pikiran tersebut bisa menjadi pelecut Pemeritah Kabupaten Grobogan untuk segera membenahi fasilitas-fasilitas jalan yang dimilikinya.(68)
– Amin Fauzi, warga Desa Batur-agung, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, kuliah di Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
3:41 AM
0
komentar
Label: wacana
Rabu, November 05, 2008
Api Mrapen, Wisata Berbasis Budaya

Tulisan ini di muat juga di harian Suara merdeka pada Kamis, 30 Oktober 2008
Rabo, 8 Oktober 2008 kemarin, Api Abadi Mrapen menjadi bukti sejarah lagi. Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih menyalakan obor yang diambil dari api Mrapen, kemudian diserahkan kepada panitia Bali Asean Beach games (BABG) 2008 yang rencananya diikuti oleh 45 negara dan akan dilaksanakan pada 18-26 Oktober 2008 di Bali.
Pengambilan api abadi ini juga diiringi oleh prosesi rutual dan pertunjukan tari
daerah yang digelar di daerah kompleks api abadi Mrapen.
Ya. Komplkes ini terletak di antara jalan Semarang-Purwodadi kira-kira KM 26 dari dari arah Semarang, tepatnya di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Di komplek ini anda akan menemukan beberapa keanehan alam yang dapat anda nikmati, yaitu api abadi yang merupakan pesona keluarnya api dari dalam tanah yang tidak pernah padam sekalipun turun hujan.
Tidak jauh dari sumber api abadi, terdapat sendang dudo, yaitu sumber air berdiameter 3 meter, kedalaman lebih kurang 2 meter. dimana airnya senantiasa kelihatan mendidih tetapi tidak panas. Letupan air itu akan menyala kalau kena api dipermukaan air.
Menurut penelitian air tersebut banyak mengandung mineral dan zat-zat kimia. Air yang dilihat keruh bila dimasukkan kedalam sebuah gelas, akan berubah wujud menjadi bening. Konon sampai sekarang air tersebut mempunyai keajaiban untuk menyembuhkan orang yang menderita penyakit gatal-gatal.
Di dekat titik sumber api juga terdapat sebuah bangunan yang di dalamnya tersimpan sebuah batu umpak atau "batu bobot" yang oleh masyarakat setempat sering kali dikeramatkan.
Wisata Agama dan Budaya
Selain itu, Api Mrapen juga memiliki hikayat dan sejarah panjang. Apinya sudah lama dikenal sebagai sumber api banyak kegiatan olah raga dan budaya di Indonesia.
Seperti pesta Olah Raga Internasional Ganefo I tanggal 1 November 1963. Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai PON X tahun 1981, POR PWI tahun 1983, HAORNAS, Upacara hari raya Waisak dan pembukaan Bali Asean Beach Games pada 8 Oktober kemarin.
Tidak hanya proses keanehan alam yang terjadi ditempat ini, tetapi juga punya nilai sejarah budaya atas terciptanya tempat ini. Yaitu tempat dimana besalennya Empu Supo. Api abadi adalah tempat untuk membakar besi, sumber airnya untuk "menyepuh", sedangkan batu bobotnya untuk menempa keris pusaka. Menurut masyarakat setempat Empu Supo adalah Empu dari Majapahit yang turut pindah ke Kerajaan Demak.
Tempat ini terkenal sebagai Obyek Wisata Api Abadi Mrapen yang pernah nampak indah tertata rapi dan banyak pengunjung sekitar 10 tahun silam.
Perlu Perhatian Lebih
Namun keberadaanya saat ini sangat memprihatinkan, kondisi dalam area maupun sekitar wisata tersebut nampak kumuh, terlihat tidak pernah dirawat oleh yang berwenang. berbagai kegiatan juga tak menyentuh tempat ini, masyarakat juga jarang sekali melirik tempat ini apalagi mengunjunginya. Bahkan image masayarakat terhadap objek wisata tersebut sangat negatif dibanding Objek Dan Daya Tarik Wisata (ODTW) di luar kota lain.
Sudah selayaknya tempat ini dilirik kembali, karena bisa dibilang wisata di daerah Grobogan sangatlah minim dibandingkan dengan daerah lain. itupun tingkat perhatian dan prosantase pengunjungnya sangatlah minim.
Untuk memulihkan kembali wisata tersebut, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada upaya keras dan berbagai kerja sama antar pihak untuk memangun kembali wisata alam ini.
Pemerintah tidak bisa berdiri sendiri dalam mengambangkannya. Akan tetapi juga harus ada kerja sama antar pihak baik itu pemilik, pemerintah maupun mendatangkan investor untuk sama-sama memajukan wisata tersebut. Terlebih juga dukungan masyarakat setempat untuk merawatnya.
Karena kalau melihat kondisi Wisata Api Abadi Mrapen saat ini, hal yang mesti dilakukan utama adalah pembangunan fisik, baik itu fasilitas maupun penambahan permainan, dengan harapan bila pengunjung hadir tidak hanya melihat wisata alam tersebut, akan tetapi bisa menikmati fasilitas lain yang di tawarkan.
Pembangunan itu butuh modal besar, karena banyak fasilitas yang perlu diperbaiki. Sehingga butuh dana besar untuk bisa memberikan sesuatu yang lebih tersebut. Disinalah peran investor sangat diperlukan untuk menggait dana pembangunan. dengan harapan setelah ada dana bisa memperaiki fasilitas yang ditawarkan.
Karena bicara objek wisata sama seperti halnya menjual barang dagangan. Pembeli atau pengunjung akan merasa tertarik jika barang tersebut menawarkan sesuatu keunikan dan memberikan kesan yang baik.
Hal itu bisa dilakukan saat ini adalah: Pertama, adalah pembangunan dan penambahan fasilitas yang cukup memadai bagi pengunjung. Karena mengingat objek wisata ditempat lain persaingannya juga semakin ketat, pengunjung juga sangat selektif memilih objek yang akan dikunjungi.
Kedua, menganalkan kembali objek tersebut kepada masyarakat, pengenalan ini tentuya mencakup promosi maupun sosialisasi terus menerus dengan model menjemput bola, tidak hanya menunggu pengunjung yang datang.
Ketiga, memberikan trust (kepercayaan) yang baik, dalam konteks ini bisa mencakup pengelolaan yang baik, pelayanan yang memuaskan maupun memeberikan kesan hangat kepada pengunjung.
Dengan begitu pengunjung akan merasa nyaman dan senang dengan faslitas yang ditawarkan, karena biasanya kesan pertama sangat menentukan ketertarikannya, dengan harapan setelah berkunjung selesai mengunjungi, kemudian bercerita kepada orang lain mengenai kesan wisata ini, seperti pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung".
Ya. Semoga dengan semua harapan dan perhatian ini bisa segera ditindak lanjuti oleh yang berwenang. Minimal tidak hanya api abadinya yang terus berkobar, tetapi kobaran semangat kebanggan memiliki wisata alam yang unik ini juga terus ada.
(Amin Fauzi, Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syar'ah IAIN Walisongo Semarang dan MAntan Pemimpin Redaksi Surat Kabar (SKM)AMANAT IAIN Walisongo)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
8:51 PM
0
komentar
Label: wacana
Senin, Juli 21, 2008
Menjadi Selebritis Abadi

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"
-- Pramoedya Ananta Toer
Ingin menjadi orang yang terkenal atau selebritis, tak harus menjadi artis sinetron atau artis layar lebar yang tiap hari nongol di televisi, atau kemana-kemana dikejar-kejar oleh wartawan hiburan.
Banyak cara untuk menjadi selebritis, salah satunya dengan menulis. Entah itu menulis cerpen,novel, puisi, artikel, ataupun buku-buku ilmiah.
Banyak penulis-penulis terkenal yang popolaritasnya meleibihi artis-artis layar kaca. Sebut saja Muhammad Hatta, Soekarno, Armin Pane, Sutan Ali Sya'bana, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Ahamad Tohari atau penulis-penulis sekarang seperti Habiburahman Saerozi melalui novel Ayat-Ayat Cinta yang lagi booming melalui filmnya, dan banyak lagi penulis-penulis lain yang popular karena karya-karyanya.
Sutan Takdir Alisjahbana misalnya. Melalui karyanya Layar Terkembang, karya fenomenalnya masih banyak di baca dan bahkan menjadi buku wajib bagi para pelajar dan mahasiswa hingga sekarang.
Pramoedya Ananta Toer juga salah seorang penulis besar yang mengharumkan bangsa di pentas internasional. Karena tidak sedikit karyanya yang diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di seluruh dunia.
Penulis lain adalah Ahmad Tohari, ia tidak tinggal di pusat kota, tapi hanya tinggal di pelosok desa Tinggarjaya, Jatilawang Banyumas Jawa Tengah, namun dari sana banyak monorehkan karya-karya sastra yang mempesona bagi pembacanya. Karya-karyanya telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Cina, Belanda Jerman dan Inggris.
Mereka adalah selebritis yang melewati jalurnya dengan cara menjadi penulis. Tidak spontan dan tak mudah hilang popularitasnya sampai kapanpun selagi karyanya masih ada. Meskipun orangnya sudah meninggal berpuluh-puluh tahun yang lalu, tetapi dengan karyanya ia senantiasa hidup untuk dibaca dan dikenal oleh pembacanya. Seperti dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Ya. Dengan menulis, orang tidak selesai pada penyampaian ide. Tetapi di dalamnya terdapat goresan sejarah dirinya yang kelak akan dikenang dan dinikmati oleh pembacanya.
Gelar selebritisnya tidak semu, yang mungkin hilang dalam sekejap dimakan waktu seperti selebritis-selebritis biasanya. Karya seorang penulis mampu meruang dan mewaktu untuk siapa saja dan kapan saja.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
5:40 AM
0
komentar
Label: wacana
Minggu, Juni 22, 2008
Busanamu Itu Lho Nak……!

“Dress is powerfull signifier of historical time, age, gender, class, religious and political orientations”
---- Jean Gelman Taylor
Sejarah pakain adalah sejarah pertemuan, lahir bukan tercipta dari ruang yang hampa, ada benturan-benturan peristiwa terjadi, bongkahan-bongkahan sejarah tercipta. Seperti yang tuturkan Taylor pakaian adalah kekuatan penanda dari sejarah waktu, usia, gender, kelas dan bahkan orientasi politik.
Setiap bangsa, suku punya pakian adat yang memberikan ciri khas dari bangsa tersebut. Dalam pakaian tersebut terdapat karakter kepribadian yang membiaskan dirinya.
Bahkan menurut agama, pakaian tak sebatas tanda, tapi penutup "aurat", di dalamnya diatur organ tubuh yang mana seharusnya ditutup oleh pakaian. Karena bagian yang ditutup terdapat rahasia yang tidak etis jika diperlihatkan oleh semua orang.
Di Jawa sendiri ada adigium "ajinhing raga ono ing busono, ajining ati ana ing lati" bahwa dihargainya sebuah raga karena dikenakan busana yang sopan pula. Dalam arti yang lebih spesifik untuk bisa menghargai diri sendii pakailah busana yang sesuai dengan adat dan norma yang berlakau, seperti yang dikatakan Taylor tadi bahwa pakaian adalah layaknya penanda.
Nilai-nilai itu yang diajarkan baik oleh ajaran agama maupun adat di Indonesia terutama di jawa. Menutup aurat dikala keluar dari rumah adalah suatu keniscayaan, biarpun pakian itu nampak lusuh, meskipun hanya berapa helai yang dipunyai akan tetapi diusahakan yang dipakai adalah pakaian yang kiranya bisa menutup suatu hal yang sakral, dalam artian bisa dinikmati baik mata maupun raba oleh keluarganya sendiri.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, sejalan dengan lebih terbukanya ruang, nilai-nilai itu semakin kabur terhempas oleh arus moderenisasi, konsumerisme, hedonisme yang ujung-ujungnya adalah budaya materialisme.
Nilai kesopanan dalam berbusana tidak lagi diperhatikan, cirikhas pakain suatu adat tertentu tidak lagi dikenakan. Orang-orang sekarang terutama generasi muda lebih senang suatu yang simple meskipun tanpa nilai, nilai rasa pakewuh, malu semakin luntur dan yang semakin tumbuh adalah budaya cuek.
Seperti yang nampak di mall-mall, di ruang-ruang publik, banyak perempan-perempuan usia muda berpakain nanggung, berawal dari busana ketat yang memperlihankan bentuk dan struktur tubuh, berlanjut dengan memperlihatkan separuh dada yang terkadang memperlihatkan tali bra, dan terus ke bawah memakai desain pakain yang memperlihatkan batas antara perut dan suatu sacral bagi wanita. Bahkan ada yang lebih lucu lagi, atasnya memakai jilbab tapi bawahnya juga diperlihatkan seperti celengan.
Mereka yang ditiru dan yang dibeli adalah apa yang ada di TV dan yang diperlihatkan di media-media biar nampak keren meskipun melupakan norma-norma. [Amin Fauzi]
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
6:39 PM
0
komentar
Label: wacana
Sabtu, Juni 07, 2008
Cantik Tak Harus Putih

"Cantik adalah konstruksi sosial belaka"
--- Dian Sastro Wardoyo.
Kutipan di atas penah terucap oleh Dian Sastro tatkala bincang-bincang soal kecantikan di salah satu stasiun TV swasta. Yang mengkritisi obesesi kecantikan orang-orang Indonesia yang melihatnya dari luarnya saja.
Ya. Akhir-akhir ini banyak iklan televisi mengenai produk-produk kecantikan yang menjanjikan merubah kulit menjadi lebih putih hanya dalam beberapa minggu, entah Pond White Lotion, Citra White, Emeron White, Sari Ayu White dan lain sebagainya dengan model-model cantik berkulit bersih yang pada intinya mengajak masyarakat untuk berkulit putih.
Kulit putih menjadi obsesi kecantikan orang Indonesia. Cantik adalah putih, itulah yang selalu dicitrakan oleh media maupun kebanyakan orang. Di sinetron-sinetron televisi banyak juga artis-artis yang menngkonstruksikan bahwa wanita cantik adalah wanita berparas putih, semampai, hidung mancung, gaya bahasanya agak keingris-ingrisan, yang seakan-akan seperti postur perempuan-perempuan barat.
Sehingga dalam banyak sinetron yang memasang perempuan Indo yang lebih mengandalkan fisik dari pada acting yang bagus. Dan bahkan banyak juga artis-artis Indonesia yang menikah dengan orang barat.
Dari pencitaan yang disampaikan media tersebut, secara kritis dimanfaatkan oleh perngusaha kecantikan untuk membuat produk yang bisa membuat kulit menjadi putih, dan anehnya masyarakat menerima dengan mentah pencitraan tersebut, sehingga banyak perempuan larut dan bahkan ketagihan untuk menggunakan produk-produk pemutih.
Idealime Kecantikan
Padahal kalau mau menginstropeksi diri sendiri, setiap bangsa, budaya punya karakter kulit tersendiri dan punya idealisme kecantikannya tersendiri. Di Indonesia khususnya Jawa, masyarakatnya mempunyai ciri khas kulit kuning langsat atau sawo matang. Di kalangan elit Jawa sendiri juga tidak mendambakan kulit putih, bahkan putri-putri keraton untuk menjadi cantik dia mendambakan kulitnya untuk menjadi kulit langsat.
Cantik sesungguhnya adalah suatu yang abstrak. Dalam literatur Jawa, idealisme kecantikan bukan terletak pada fisik semata, tetapi penggambarannya terletak pada metafora-metafora alam yang meninsyaratkan akan keindahan.
Dalam Sarat Kakawin yang ditulis ulang oleh Helen Creese yang berjudul The Embodiment of Female Beauty in Kakawin literature. Literature yang berisi tentang kumpulan puisi ini yang dulu dikenal dengan nama Dwi Dwipa, pada zaman ketika budaya jawa belum mempuyai hubungan kontrak dengan budaya barat/Eropa.
Dalam buku tersebut menggambarkan idealitas kecantikan peempuan melalui puisi, dalam salah satunya kutipan misalnya: Daun asoka adalah pinggangmu/ indahnya kuning kelapa gading seindah payudaramu/ indahnya lambaian tanaman gadung adalah juntai tanganmu/teratai biru adalah indah matamu/remang bulan seperti berganti siang karena kecantikanmu/merana karena hilangnya cahaya/berapapun banyaknya puisi yang ada di muka bumi ini/ takkan pernah cukup untuk melukiskan pesona kecantikanmu/.
Kesan jelas yang bisa dilihat dari kutipan puisi di atas adalah bersifat metaforis, yang menggunakan benda-benda alamiah seperti bunga, daun asoka, kelapa gadng, teratai untuk melukiskan keindahan pesona kecantikan fisik seorang perempuan yang semuanya itu bersifat abstrak dan tidak menunjukkan karakter warna.
Adapun menganai idealime kulit cantik orang jawa seperti disebutkan dalam buku tersebut melalui kutipan puisinya tertulis: tangganya panjang seperti seperti pangkian anak panah/rambutnya gelombang dan hitam sekali/giginya seperti biji buah mentimun/tubuhnya langsing kuat/ warna kulitnya kuning seperti kunyit/ matanya sering berkedip seperti bila tertiup angin/anak rambutnya banyak/semua itu menambah pesona ayumu/.
Dalam kutipan tersebut jelas disebutkan bahwa cantik orang jawa adalah jika mempunyai kulit kuning seperti kunyit bukan putih seperti yang dicitrakan oleh produk-produk iklan masa kini.
Jika media mencitrakan cantik itu putih, itu hanya sebuah bentuk kolonialsme baru yang manganjurkan perempuan Indonesia untuk berkulit putih melalui hegemoni media.
Orang Indonesia punya karekter sendiri, punya idealisme kecantikan tersendiri. wisatawan-wasatawan manca negara yang berkunjung ke Indonesia saja sukanya berjemur di pantai dengan harapan bisa menggelapkan kulit putihnya, justru orang Indonesia ingin memutihkan kulitnya.
Sudah saatnya perempuan Indonesia kritis terhadap media dan kritis produk-produk kecantikan yang di tawarkan oleh perusahan pembuat kecantikan, bukan saatnya lagi menerima secara mentah-mentah.
Cantik tak harus putih, dalam sebuah filsafat Coufusius mengatakan bahwa Everything has beauty, but not everyone sees it.(Semuanya mempunyai kecantikan, tetapi tidak semua orang dapat melihatnya). Beauty is in the eye of the beholder. tanpa hati dan perilaku yang baik, kulit putih dan paras cantik bukan berarti apa-apa. [Amin Fauzi]
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
4:48 PM
3
komentar
Label: wacana
Senin, Mei 19, 2008
menepis kerakusan manusia

Hobi manusia menumpuk-numpuk harta benda bisa menambah kekeringan spiritualitas
Saat ini manusia memang berada di tengah peralihan sejarah yang menentukan. Dunia yang di ciptakan oleh lebih dari tiga abad moderenisasi ini telah mengirimkan sinyal bahaya menyangkut kompleksitas interaksi ekologi yang menopang kehidupan di bumi.
Rentetan bencana melanda berbagai wilayah di Indonesia.Ada yang terjadi karena proses alamiah dan akibat ektifitas lempeng-lempeng kerak bumi dan banyak di sebabkan oleh ulah manusia sendiri.
Kegiatan manusia, khususnya dalam hal produksi dan konsumsi energi untuk menciptakan berbagai sarana yang menunjang “kenyamanan” hidup telah membuat atmosfer bumi seperti bejana raksasa berisi gas-gas buangan yang volumenya sama-sama besar.
Sehingga banyak memakan banyak korban rakyat nusantara ini, masyarakat Aceh yang belum pulih dari penderitaan akibat tsumani, setelah itu di berbagai daerah dirundung oleh banjir yang bertubi-tubi, ribuan orang terpaksa mengungsi. Ratusan rumah dan sawah rusak di landa banjir.
Penyebab terjadinya bermacam bencana ini dikarenakan oleh kerakusan, ketamakan dan kecongkaan sifat manusia yang hanya berfikir jangka pendek demi kepentingan dan keuntungan pribadi belaka.
Harian International Herald Tribune Sabtu-Minggu-Senin 29-30 april, 1 Mei 2006 halaman pertama memuat artikel berjudul: The end of Borneo’s tropical forest?. Pembicaraan telah dimulai dari kalangan RI dan pihak Cina untuk menjual hutan dan menebang pohon-pohon Merbau. Pada tanggal 19 April 2006, Indonesia mengumukan bahwa Cina telah memesan 1 milyar dolar untuk 800.000 meter kubik kayu demi mempersiapkan konstruksi fasilitas olahraga olimpiade 2008. (Etty Indriyati, 2007:36)
Sehingga benar seperti yang paparkan oleh Badan Pangan Dunia, FAO menyebut laju pengahancuran hutan di Indonesia sepanjang 2000-2005 sebagai yang tercepat di dunia. Setiap tahun rata-rata 1,871 juta hektar hutan hancur atau 300 lapangan sepak bola setiap jam. Kehancuran 2 persen dari luas hutan yang tersisa dari luas hutan yang tersisa itu jauh melebihi Zimbabwe, Myanmar, dan bahkan Brasil.
Sehingga akibatnya pun jelas, hujan yang terus menerus membanjiri daerah yang berdataran rendah, kasus terdekat yaitu kota Jakarta seketika di genangi oleh banjir akibat hujan yang terus beruntun.
Hujan yang terus menerus menyebabkan tanah longsor di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera utara mengakibatkan 21 orang tewas. Hutan alam Riau yang terus menerus ditebang sekarang hanya tersisa 5 %. Di Wonogiri Jawa Tengah, gagal panen akibat kekringan. Untuk mencukupi kebutuhan air sawah di daerah itu diperlukan 100 unit sumur petak dan 77 unit pompa air, rehabilitasi embung rakyat senilai Rp 231,4 milyar dan rehabilitasi hutan Rp 223,9 miliar. Suatu jumlah yang sangat besar yang seharusnya tidak perlu dibayar apabila lingkungan ditata dan penataan ditaati sesuai daya dukung lingkungan yang dimiliki.
Kegiatan manusia, khususnya dalam hal produksi dan konsumsi energi untuk menciptakan berbagai sarana yang menunjang “kenyamanan” hidup telah membuat atmosfer bumi seperti bejana raksasa berisi gas-gas buangan yang volumenya sama-sama besar.
Para ahli menyebutnya gas buangan itu sebagai gas-gas rumah kaca, terdiri dari berbagai jenis gas; anatara lain, metana (CH4) dan Nitrogen oksida (NO), tetapi kompoen terbesarnya adalah karbon dioksida (CO2). Lama usia kilogram gas dalam atmosfer, seperti pernah dipaparkan Prof Emil Salim, adalah 50-200 tahun untuk karbon dioksida, 12 tahun untuk metahana, 114 tahun untuk karbon dioksida.
Emisi gas-gas rumah kaca itu membentuk selubung yang semakin tebal, membuat temperatur di bumi naik, diprediksi mulai satu sampai tiga derajat Celcius pada abad ini dan berpotensi mengubah pola cuaca secara ekstrem, bencana sudah di depan mata, kalau manusia tidak ingin mengubah cara hidupnya.
Begitulah bahasa sederhana dari inti laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) tentang dasar sains perubahan iklim yang dirilis di paris baru-baru ini.
Menurut Proyek karbon Global (The Global Carbon Project) pada tahun 2005 sekitar 7,9 ton CO2 dilepaskan ke atmosfer. CO2 sebagai gas rumah kaca sebagian besar oleh aktifitas manusia. Konsumsi energi di era industri melecut pelepasan CO2 yang semakin melipat.
Dapat dikatakan kenaikan temperatur bumi yang cukup signifikan tidak bisa lepas dari konsumsi energi manusia yang sedemikian tinggi pada massa kini. Efek rumah kaca yang antropogenik inilah mulai menggangu keseimbangan pengaturan suhu permukaan bumi. Diperkirakan temperatur bumi semakin meningkat. Perubahan iklim yang ekstrem mulai terjadi.
Sebagian akibatnya sudah nampak, banjir yang makin hebat dan kekeringan berat, ledakan penyakit-penyakit yang timbul melalui vector malaria, demam berdarah dan flu burung, hasil panen merosot, kelaparan, malnutrisi, rusaknya ekosistem laut dan punahnya sekitar 15-40 persen spesies keragaman hayati yang mendukung keberlanjutan kehidupan.
GAIA: Bumi Sebagi Organisme Hidup
Untuk memahami persoalan ini, James Lovelock pemikir asal Inggris mengarahkan perhatianya pada bumi dan mencetuskan gagasan mengenai Gaia.
Gagasan utama dalam hipotesis Gaia menyatakan bahwa Bumi merupakan organisme hidup. yakni suatu superorganisme baik yang mencakup biotik maupun abiotik, biosfer dan lingkunganya sebagai kesatuan yang membentuk sistem pengaturan dan pemeliharaan diri.
Terdapat ciri umum kehidupan yang dapat ditemukan di bumi, yakni adanya pengurangan entropi. Pengurangan entropi ini terjadi di daerah sabuk penghantar bumi di mana medianya adalah wilayah berair dan atmosfer bumi. Di daerah ini terdapat aktifitas kehidupan yang melibatkan biosfer dan lingkunganya. Biosfer memanfaatkan energi dan materi yang terdapat dalam lingkungan bumi baik yang terdapat dalam di laut, udara dan kerak bumi. Aktifitas kehidupan ini juga disertai dengan pembuangan limbah menuju lingkunganya.
Hal ini memperlihatkan bahwa bumi merupkan sistem terbuka. Sistem terbuka menjadi ciri mendasar setiap organisme hidup. Dalam sistem terbuka, terjadi perpindahan materi dan energi dari sistem menuju lingkungan dan sebaliknya.
Pemikiran yang tertuang dalam hipotesis Gaia juga mengakibatkan perubahan mendasar dalam cara pandang manusia, baik terhadap dirinya sendiri maupun dunia di mana manusia hidup. Manusia adalah bagian integral Gaia yang turut serta dalam sistem pengaturan dan pemeliharaan diri tersebut menjadi kunci keberlangsungan Gaia dan manusia yang menjadi bagian integralnya.
Keberlangsungan spesies manusia beserta aktivitasnya sangat tergantung dari sistem pengaturan Gaia dan wilayah-wilayah inti Gaia tersebut. Dalam Gaia, manusia bersama unsur-unsur lain dalam Gaia bekerja sama membangun sistem pengaturan tersebut. Manusia turut dipengaruhi oleh sifat mendasar Gaia, yakni pemeliharaan homeostasis dan sistem sibernetika. Jika kehadiran manusia sampai merusak pengaturan Gaia, maka petaka sibernetik yang bersifat planeter tidak dapat terhindarkan. Itu juga petaka bagi manusia.
Jadi rusak dan lestarinya bumi salah satunya bergantung pada perilaku manusianya juga baik perilaku yang sifatnya fisik maupun spiritual, karena memang seperti dikatakan di atas tadi bumi telah kehilangan jiwa Gaianya.
KRISIS SPIRITUAL MANUSIA
Sejatinya manusia telah merindukan kehijauan pohon, gemercik suara air, tari-tarian ranting dedaunan dalam embusan angin, dan pertukaran oksigen yang diambilnya dari ruangan fotosintesis hijau dedaunan, yang bergantian mengambil karbon dioksida yang di buang dari hembusan nafas manusia.
Tapi kini manusia menyita semua alam ini dengan kerusakan-kerusakan, manusia menyita simpanan kekayaan alam sehabis-habisnya, hutan, gunung, sawah, lautan, semua dihilangkan tanpa memikirkan akibatnya.
Sebenarnya orang-orang terdahulu atau nenek moyang kita jauh lebih arif dalam membatasi jumlah kelahiran keluarganya, supaya tidak menghabiskan hasil hutan dan binatang buruan. Manusia dulu juga arif dalam mengelola alam, sebatas keperluan hidup sehari-hari, tidak mengambil sebanyak-banyaknya lalu di jual ke bagian alam lain demi kepentingan semaksimal mungkin untuk menghidupi tujuh keturunan keluarga besarnya sendiri.
Kerinduan akan alam yang asri menyiratkan kerinduan berinteraksi dengan makhluk hayati yang merupakan saudara hayati kita karena unsur-unsur biologis di tubuh manusia sama yang ada pada zat hayati lain. Krisis spiritual muncul ketika manusia jarang bersentuhan dengan alam yang menyediakan energi bagi kelangsungan hidupnya.
Manusia tidak lagi menyadari, betapa alam menyediakan dengan gratis, betapa watt matahari memberi listrik di siang hari, berupa juta kubik paru-paru mendapat oksigen dari udara yang mengalir dari darahnya, berapa juta mikroba dan insekta mengambalikan manusia ke alam keabadian sehingga kolera tidak merajalela. Ironis karena perkembangan cara mencari makan dengan mendapat gaji dan ekonomi pasar menjauhkan manusia dari perolehan makan langsung dari rantai alam.
Semakin berlimpah ruah benda mati yang manusia tumpuk sebagai harta benda, semakin menjauhkan manusia dari asal usulnya dan semakin kering spiritualnya. (Amin Fauzi)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
8:34 PM
0
komentar
Label: wacana
Senin, Februari 11, 2008
My Valentine

Bulan Februari telah tiba, bunga, coklat, boneka, kartu ucapan, banyak menghiasi rak-rak mall. Begitu pula spanduk, baleho, poster makin banyak meramaikan tiang
dipinggir jalan raya. Tempat hiburan seperti Kafe dan mall juga kian ramai di banjiri tulisan-tulisan dan agenda untuk menyambut peringatan hari valentine.
Karena bulan Februari adalah momentum untuk meluapkan kasih sayang pasangan untuk lawan jenis atau sering di sebut hari valentine. Pada momentum itu tukar menukar
kartu ucapan dilakukan, pesta dirayakan bahkan banyak agenda remaja yang bertemakan valentine.
Kata-kata dan pernak-pernik corak warna pink dan biru muda memenuhi ruangan sebagai simbol kasih sayang mewarnai banyak mal-mal untuk menghiasi bulan ini, kata-kata bak mantra itu dititahkan untuk mengambarkan diaspora remaja untuk saling meluapkan rasa kasih sayang.
Ya. Tepatnya tanggal 14 februari adalah hari yang disebut dengan hari valentine (kasih saying). Sebanarnya The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine's Day :
Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama? nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity).
Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine's Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998(
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa St. Valentine termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).
Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998(
Lalu bagaimana dengan ucapan Be My Valentine? Ken Sweiger dalam artikel? Should Biblical Christians Observe It (www.korrnet.org) mengatakan kata "Valentine" berasal dari Latin yang berarti : Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi to be my Valentine.
Beralih rupa
Namun sejarah keagamaan tersebut telah berbelok jauh dari substansinya. Kini yang telah membudaya adalah hari valentine sering diartikan hanya dengan hari kasih sayang antara lawan jenis, dengan mengimplikasikanya melalui hubungan atau bermesraan pasangan.
Hari bersejarah untuk memperingati dan menghormati St.Valentine yang kebetulan wafat pada 14 Februari dan perayaan hari suci yang penuh hikmat, yang diperingati di tempat ibadah yaitu gereja dengan mengharap bahwa dan berdoa agar tuhan selalu melindungi kepada manusia.
Akan tetapi nilai-nilai tersebut hanya ada dalam cerita teks saja. Realitasnya sekarang telah beralih rupa dengan budaya hedonis dengan melaksanakanya melalui konser musik, makan-makan di kafe, tukar menukar coklat, bunga dan lainya dengan mengatas namakan menyambut hari valentine tetapi ujung pangkalnya adalah budaya konsumerisme.
Kebanyakan para remaja sekarang, memperingai hari valentine hanya berdasarkan arus budaya yang telah mengakar pada lingkunganya, tanpa mengetahui sebab musabab asal dari perayaan hari tersebut, sehingga yang terjadi adalah kesalah pahaman pada hari perayaan tersebut. (amin fauzi)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
11:51 PM
0
komentar
Label: Mesra
Kamis, Desember 27, 2007
Hilangnya Esensi Cinta
.jpg)
“Di zaman yang serba susah ini, masihkah ada kesetiaan…?,”
(Garin Nogroho dalam Film Opera Zaman)
Setidaknya ungkapan di atas tidak tercipta dari ruang hampa, melainkan ada bukti atau piranti-piranti yang meginspirasikan terciptanya ungkapan tersebut sehingga tercipta sebuah karya.
Ya. Kesetiaan, cinta, kasih sayang adalah tema yang tak kunjung usai pembahasanya, sudah banyak kisah menuturkan apa itu cinta, beribu-ribu rol film juga mengisahkan apa itu cinta, beribu bait puisi terlantun tentang cinta, ribuan lirik dan musik cinta senantiasa berdendang.
Karena cinta itu tidak suatu yang stagnan, keberadaanya pun terus mengalir, warna-warni rupanya pun senantiasa berubah sesuai dengan kondisi dan situasi perasaan. Tidak hanya perasaan, melainkan juga kondisi mentalitas masyarakat yang dirundung cinta itu sendiri.
Cinta yang sebenarnya suci, abstrak, sakral bahkan satu-satunya nilai yang sangat agung, diakui atau tidak disadari atau tidak pemaknaanya sudah bergeser terlampau jauh oleh masyarakat sekarang. Tidak hanya dalam segi makna namun merambah pada praktek-prakteknya.
Di zaman yang dikatakan serba modern ini, dengan berbagai kecangihan teknologinya ternyata telah mengubah berbagai dimensi nilai hidup masyarakat, termasuk cinta.
Ada satu alat untuk mengetahui pergeseran makna tersebut yaitu dengan lirik-lirik lagu yang tercipta pada tiap dekadenya. Kalau anda mau menganalisis lirik-lirik lagu cinta antara tahun 90-an dengan era sekarang, mungkin akan menemukan perbedaan yang sangat signifikan. Baik itu aransemen musiknya, kedalaman isi liriknya maupun pemaknaan nilai yang berhubungan dengan cinta dan kesetiaan.
Pada era 1990-an, lirik-lirik lagu yang tercipta bisa jadi masih terasa menghargai kesucian makna dari cinta tersebut, sehingga cara mengapresiasikanya pun selalu melalui metafora-metafora dan tidak berani mengungkapnya secara langsung.
Ada banyak judul lagu dengan metafora yang menunjukkan arti sebuah cinta. Misalnya Mawar Berduri, Kupu-Kupu Kertas (Ebiet A Gede), Bintang Jatuh (DNA), Bunga Desa (Rhoma Irama), Restu Bumi (Dewa 19) dan masih banyak lagu lain yang mengutarakan makna cinta dengan metafora-metaforanya.
Ya. Karena begitu abstrak skaral dan sucinya cinta penyampainaya tidak berani langsung, orang-orang dahulu masih begitu menghargai dan menghormati apa itu cinta.
Sehingga kalau orang-orang dulu pernah cerita bagaimana proses mencintai seseorang, perjuangan mencari cinta sejati itu merupakan hal yang sulit di dapat, sehingga ketika memperolehnya merupakan anugerah yang luar biasa.
Banyangkan saja, bagaimana rasanya orang memendam rindu ketika lama tidak ketemu (transportasi sulit, HP belum ada), kalau tuhan menginzinkan untuk bertemu, jangankan menciumnya, memeluknya. Untuk sekeadar menggandeng tangan saja sudah malunya luar biasa, yang bisa dilakukan mungkin hanya saling menatap mesra sesekali serasa malu-malu, hanya interaksi degub jantung yang membuatnya menyatu untuk saling ada dan mengada diantaranya.
Bagaimana dengan sekarang…..?
Coba bandingkan dengan lirik-lirik lagu yang tercipta sekarang, pemaknaan terhadap cinta cenderung materiel tidak lagi abstrak tapi konkret dan dipermudah. Banyak lagu cinta yang penyampainya tidak lagi dengan metafora dan cenderung menghinati apa itu cinta. misalnya, Selingkuh, Tentang Aku Kau Dan Dia (Kangen band), Kamu Ketahuan, Play Boy (Matta band), Kekasih Gelapku (Ungu), Dirimu Dirinya (Pinkan Mambo), dan masih banyak lagu lagi yang cenderung menghianati apa itu cinta dan mesti melibatkan orang ketiga.
Bisa jadi itu bukan hanya lagu tapi sebuah pengalaman hidup dan potret dari masyarakat sekarang. Masyarakat yang tidak lagi menghargani anugrah cinta terindah dari tuhan yang di berikan kepada makhluk manusia.
Ya. Dengan teknologi di zaman modern ini, hasrat untuk memiliki sesuatu mudah di lakukan termasuk pengatasnamaan cinta yang pada buntutnya adalah penghianatan.
Dengan HP orang mudah berkomunikasi, menit ini berhubungan dengan si A, satu menit kemudian kencan dengan Si B. bukanlah hal yang sulit kalau ada fasilitas yang menunjang tanpa ada bangunan mentalitas kesetiaan.
Segalanaya sekarang terbuka, pria dan wanita bergandeng tangan sudah biasa, berpelukan, berciuman di muka umum bukan suatu hal yang asing. Tidak hanya usia dewasa melainkan remaja bahkan anak-anak di bawah usiapun sudah berani melakukan tindakah yang tak senonoh ini.
“Salah siapa….? Apakah ini dampak dari moderenisme….?,” Tanya sang pemuka agama.
“Zeihgeisth sudah berbeda pak ustadz,” jawab anak muda sekarang. Amin Fauzi
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
12:26 AM
0
komentar
Label: amin
Global Warming in Reflection

Di sadari atau tidak, diakui atau tidak, bahwa hidup sekarang masih bisa dirasakan kenyamanannya meskipun kalau dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu, kenyamanan itu telah memudar.
Mungkin saat ini, terkadang alam masih mengandeng gerak langkah kita, terbukti dengan murahnya fasilitas yang diberikan setiap detiknya. Kita bisa menghirup udara segar tiap pagi, angin masih senantiasa membelai kala gerah, seteguk dua teguk air bersih siap sedia di minum kala haus. Dua kali sehari masih diperknenkan menceburkan diri dalam air bersih kala kita ingin mandi. Kita masih bisa berteduh di bawah rindang pohon kala sang surya menyengat bumi. Begitu bersahajanya alam ini.
Namun apakah anda pernah berpikir sepuluh tahun kedepan bahwa semua fasilitas yang diberikan di atas sulit untuk ditemui, jangankan untuk mandi dengan air bersih, untuk mencari seteguk dua teguk air minum saja sulit. Kalau alam seperti ini bergolak bagaimana dengan nuansa kemesraan sosial ini?.
Kecurigaan ini bukanlah hal yang tidak mungkin, semuanya bisa terjadi, kecurigaan itu indikasinya sudah bisa ditemukan tiap harinya. Rentetan bencana bertaburan pemberitaanya di media, banjir, gempa, kekeringan, gagal panen, limpur lapindo, angin puting beliung, tsunami, dan masih banyak bencana alam lain yang menunjukkan bentuk interaksi alam terhadap kesombongan manusia.
Yaaa. Moderenitas terkadang membuat manusia sombong dengan apa yang dimilikinya. Hobi manusia modern mengkonsumsi barang-barang ternyata tidak seutuhnya direstui oleh alam. Teknologi yang digunakan untuk menunjang kenyamanan hidup dengan mengatas namakan efisiensi ternyata malah berbuntut pada kesombongan atas ketergesa-gesaanya.
Di jalan raya misalnya jutaan kendaraan berjubel membanjiri jalan, orang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi dari pada angkutan umum sekali lagi atas nama efisiensi (semoga bukan karena gengsi). Tapi yang terjadi bukanlah efisiensi melainkan kemacetan yang yang tiada henti, setiap pagi dan sore orang modern ini harus menyemut di jalanan.
Dalam sebuah kemacetan di temuaknaya berbagai persoalan alam maupun sosial. misalnya tergesa-gesa, membuang-buang waktu, emosi, pemborosan energi. Suasana bumi semakin panas karena langit tak kunjung sanggup memayungi bumi karena telah dicemari oleh emisi gas maupun karbon dioksida yang berlebihan, sekali lagi atas nama efisiensi.
Belum lagi fasilitas rumah yang serba lebih, misalkan AC, mesin cuci, kulkas, TV Komputer yang semuanya mengandung senyawa dalam menyumbang emisi gas ini. Kalau tiap rumah menggunakan fasilitas ini, berapa juta orang menyumbangkan pencemaran ini.
Akibatnya pun jelas, bumi semakin panas, iklim tak menentu. Kita tidak bisa membedakan lagi kapan musim hujan dan kapan musim kemarau, entah itu hujan maupun panas bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa kompromi.
Kalau sudah begini kita tidak bisa lagi menggunakan nilai-nilai. Musim yang seharusnya di agendakan untuk menanam atau memanen kebutuhan hidup sehari-hari tak kunjung jelas. Petani sulit untuk menanam padi, atau menanam apapun karena dirundung berbagai bencana tadi. Kalau para petani tidak menanam makanan pokok lagi, lantas kita mau makan apa?.
Bumi adalah salah satu planet yang hanya bisa dihuni oleh manusia, tapi kalau sudah panas, bergolak dan menolak keberlangsungan manusia, lalu mau tinggal dimana?. Merkurius dan venus terlalu panas untuk kita singgahi, mars terlalu gelap untuk ditempati, harapan satu-satunya adalah bumi. Tapi bumi kalau sudah tidak ditemukan kenyamananya, berbagai problem alam maupun social terus menggelayut di punggung kita, lalu mau kemana tinggal dengan lega?
Dalam kondisi seperti ini, makan sulit ditemukan, cuaca semakin panas, udara bersih untuk menghela nafas sulit ditemukan karena sudah bercampur baur dengan gas knalpot, untuk mencari seteguk air bersih saja sulit apalagi makanan.
Untuk memikirkan kebutuan pokoknya sendiri aja terseok-seok, dalam kondisi seperti ini yang menang maka dia yang bertahan jadi benar adanya. Sesuatu hal tidak mingkin bisa memikirkan orang lain. Yang ada hanyalah menggelegaknya mencurigai antar sesama, mpripat manuia saling menerkam, tidak ada lagi nuansa kemesraan, apa lagi kasih saying yang terjadi adalah bermusuhan. Kalau memang begini jadinya maka yang terjadi adalah PERANG….! (Amin Fauzi).
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
12:16 AM
0
komentar
Label: wacana
Selasa, Desember 11, 2007
Jadikan Cinta Spirit Hidup

Sekarang generasi mu boy, ingat _ jangan sia-siakan begitu saja. Jangan sampai berakhir dengan tragis. Jose Ortega Y Gassets (1883-1955) mengatakan bahwa suatu generasi akan berakhir apabila kehilangan decisive generation. Jika hanya menjadi segepok manusia yang tanpa arti bagi sekelilingnya, terbang kesana-kemari terombang-ambing angin yang kian tak menentu oleh bingungnya musim. Sama halnya bohong, wujuduhu ka adamihi, adamu di anggap tidak adamu.
Apakah kamu akan bersikap seperti itu, terkapar oleh ketidakmenentuan zaman, dicemooh oleh orang-orang sekelilingmu bahkan diludahi oleh anjing sekalipun karena sikap memblemu.
Nah, hal yang meski kamu lakukan adalah menjadi the most decesive innovators. Dan biasanya ini adalah kelompok kecil dengan bakatnya yang luar biasa dan punya kesadaran jiwa yang tinggi. Menjadi manusia yang berjiawa abadi, sukma yang tak lelap tidur, yang dari kejauhan matanya menatap jelas daerah perawan yang belum pernah terjamah tangan.
Ingat. generasi bukanlah umur atau waktu yang menentukan, melainkan sikap dan pola tingkah laku yang tegas nan bijaksana. Ingat boy_. Please do it!
****
Oke, saat ini mungkin kamu lagi punya rasa atau bisa dibilang punya deep feel for some one yang kamu anggap paling special didunia ini. Pendekatan-demi pendekatan kamu lakukan, serpihan demi sepihan rasamu kamu lontarkan melalui pengorbanan ruang dan waktumu demi meraih empati dan simpatinya.
Tapi paling tidak ada konsekuensi yang harus kamu tanggung juga. Masih ada juga tanggung jawab besar yang kamu emban. Dan itulah salah satu atau secuil proses untuk menuju the most decesive innovators.
J
angan jadikan dia sebagai momok dalam hidupmu, tapi jadikan dia sebagai semangat hidupmu bahkan inspirator dan motivator untuk terus berkreasi demi meraih suksesmu.
Kau bilang cinta itu raising in love bukan falling in love. Ya… cinta sejati adalah ketika bisa bersama-sama tegak, tegak untuk meneduhkan dan menyemai damai bagi dirimu dan orang lain.
Ingat boy…… the most decesive innovators. Kalau tidak sekarang kapan lagi……..(Amin Fauzi)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
1:47 AM
0
komentar
Label: Mesra
Senin, November 19, 2007
Confuse

I don’t know what should I do this time, although my self surrounded in crowded situation I am still lonely, my deep eyes look empty run off uncertainly. My ears close it self until there is a thunder strike my room but I don’t hear it. My mouth be mute, all of my body be quite like a numb.
However, my feeling is so break and my mind is death. All of my knowledge that I have gets until now like strike from great virus. When I force to think about my self, suddenly feel vibrating beat uncertainly.
“It is fate of god?” my question for imagines.
For about seven days I just think like that why my god create my self like this. But some times I also ever think that may be my god just trusts me to bring this mandate of life. Yesterday I made a poem in order to decrease my problem, may like this:
Oh Allah.
Any body bring great load than me?
Now, I not only
Poor of merciful
Poor of material
Poor of heart
Poor of religion
Poor of social
But also poor of knowledge
Oh Allah.
Do I arrogant with my poor?
Oh Allah.
Please give me shine light so that it’s not been arrogant with that poor.
I am still confused; I don’t know what’s going on. With whom I should tell on. Every body just quiets. One side, I must finish all of responsibility. But on the other side, no body supports all of my activities.
“Hello every body, in the name of humanity. Any bodies support me? Any body heir me?” my question for human in the world.
May be just for Allah I must tell on about all of load. Because very difficult to find the right man and the right place. In the disoriented period like this, we difficult to search value of loyalty among human being. (Amin Fauzi)
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
8:40 PM
1 komentar
Label: amin
Jumat, November 02, 2007
An Exiting Trip

Perjalanan menuju wisata grojogan sewu, bukanlah moment yang mudah terlupakan begitu saja, bukan perjalanan biasa, bukan pula gerak langkah saja yang menikmati, tapi dalam perjalanan itu kedamaian alam menikmati setiap detik pengunjungnya.
Ya. Saya melakukan perjalanan menyenangkan ini mulai pukul 07.00 WIB ditemani oleh 15 orang, delapan cowok dan tujuh cewek dari tujuh univeristas di Semarang.
Menyusuri jalanan panjang bergelombang dengan jalan kaki bisa jadi amat melelahkan, tapi dengan jalan kaki itu justru menemukan kenikmatan alam yang tiada tara indahnya.
Tidak hanya jalan halus tertata rapi, di jalan itu pula, kanan kiri jalan dipenuhi oleh ratusan jenis bunga dengan berbagai varianya. Aroma wanginya senantiasa tercuium, terasa sudah menyatu dan berbaur dengan hembusan udara segar pagi itu, bunga-bunga bermekaran tersenyum dan menyapa orang yang lewat, sesekali bening embun pagi turut membasahi dedaunan yang nampak segar itu.
Disepanjang perjalanan bangunan villa megah nan elok juga menjadi saksi canda ria perjalanan kita, sesekali Venny Milawati dengan gaya narsisnya bilang “ayo temen-temen mampir ke rumah aku,” sontaknya sembari narsis didepan gerbang rumah memintanya untuk difoto. (He..he… orang kota bermental ndeso.. looo).
Sesampai di perempatan jalan ada papan bertuliskan “ke grojokan sewu untuk pejalan kaki”. Kita menelikung ke jalan sempit itu, tetap saja lautan bunga mengiringi langkah dan mewarnai pandangan, meskipun ratusan jenis bunga menghiasi bumi Karang Anyar itu, namun bunga antarium masih mendominasi lautan bunga tersebut. Maklum bupati Karang Ayar menyebut dearah ini sebagai kabupaten karanganyar antorium karena kebanyakan warga sana menanam bunga ini.
Sesampai 50 m sebelum gerbang masuk grojokan, puluhan kera menyambut ceria kedatangan kita dengan berbagai ekspresi. “Gus saudaramu tu menyambut,” ujar yogi sembari menudingkan jemarinya ke salah satu kera.
Ada beberpa kera kalau difoto mendadak langsung acting menunjukkan gaya seksinya seperti model, ada pula kera kalau dikasih makan mbuntut melulu, ada pula satu kera yang diam terus bawaanya pengen menerkam semua pengunjung yang ada disitu.”hai tau ga monyet yang itu lagi punya masalah, jangan di ganggu dong,” ujar dita. (ah… sok psyikolog looo, masalahnya monyet itu lagi naksir kamu tapi ga berani menggungkapkan. He……..he…..
Kita sudah duduk didepan gerbang selam 15 menit karena petugasnya belum datang. Namun susana masih terasa enjoy ditemani oleh kemesraan kera-kera itu sesekali ada seaorang laki-laki yang lagi mometret kera di samping istrinya “itu sebenarnya yang kera siapa? Kamu atau kirimu?,” ujar laki-laki itu. Sontak kami sekitar 15 orang tertawa lepas menertawakan orang itu. Muka merah langsung tampak pada ekspresi keluarga tersebut.
Selang beberapa menit penjaga loket datang, memebeli tiket untuk masuk, karena kami rombongan maka kami di diskon. Enam orang gratis masuk.
Perjalanan dilajutkan, kini tidak lagi jalan mulus beraspal yag dilalui atau taburan bunga yang mengiringi, tidak lagi lurus tapi terus dan terus turun sesekali jalanan licin ditemui, jalan dibangun dengan menggunakan anak tangga. Kanan kiri jalan hanya dikelilingi oleh pepohonan besar dan bebatuan.
Melalui anaka tangga tersebut langkah-demi langkah dilalui sesekali ada yang terpeleset karena licinnya jalan itu, terpaksa kami memutuskan untuk melepas sandal masing-masing.
Dua puluh menit kemudian kita sampai di grojokan, pertama kali melongok keatas, huh…. Nikmat yang tiada tara air terjun dengan ketinggian 100 meter, puluhan kubik air jatuh tiap menitnya menimpa bebatuan besar di awah bukit itu.
Kami semakin untuk dekat dan mendekap merengkuh kesegaran alam itu, perlahan kami menyusuri bebatuan besar sesekali menceburkan diri kedalam air bening nan bersih yang mengalir gemercik menatap-natapkan diri pada bebatuan besar itu.
Ada hal yang berbeda dari hawa sebelumnya, kini semakin sejuk, udara yang berhembus mesra itu serasa bercampur dengan air. Dedeunan hijau yang mengelilingi air terjun itu melambai-lambai bak mengipasi orang yang ada di area itu. Namun di balik pohon-pohon besar itu puluhan kera tetap saja mengintip kemesraan canda-tawa kita.
Momen penting ini tak begitu saja di tinggalkan. Berakting ria di depan kamera terus dan terus dilakukan, yah narsis lagi, kalo ga gini ya ga beswan booo.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
5:22 AM
1 komentar
Label: gue
Senin, Oktober 08, 2007
keluarga baruku

Ini adalah orang-orang yang paling berkesan sepanjang perjalananku selama ini. Tanpa mereka aku layaknya sebatang pohon yang menggeliut kemana angina berhembus. Dari mereka aku aku belajar hidup, prinsip, kepribadian, bahagia, menangis. Tapi itulah membuatku lebih berarti. Thanks for all.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
11:36 PM
0
komentar
Label: amin
Berani Menggungkapkan Rasa

Rama: hai Sinta…… sorry lama ya nunggunya?
Sinta: hai Rama….. baru aja aku nyampe sini. Yaaah everything is ok..
Rama: ga’ ada kuliah?
Sinta: baru aja selesai, ntar jam 13.00 ada ujian mid semester, do’ain ya..!
Rama: is ok.., doaku akan selalu mengiringimu.
Terdiam sejenak tanpa ada kata-kata, hanya saling menetap sesekali tersipu.
Rama: disini udaranya semilir ya, serasa teduh.
Sinta: ya iyalah secera gitu loo, pohonnya kan rindang. Btw, Rama mau ngomongin apaan ya sama Sinta?
Rama mengembuskan nafasnya lalu mendesah pelan, sepelan angin siang itu
Rama: aku gak tau, mau memulainya dari mana
Sinta: memang tentang apaan?
Rama: ceritanya panjang, abstrak dan absurd hingga aku sulit mengungkapkan lewat kata-kata.
Sinta: ah… Rama sukanya bikin penasaran aja. Kalau sulit, sekarang konkretnya kaya apa deh!
Rama: untuk hal ini ga bisa di konkretkan, karena ini suatu yang luhur, suci nan absbtrak.
Sinta: jadi…. …?
Rama: Sederhananya, aku pengen ungkapkan maaf aja sama Sinta.
Sinta: Maaf apaan, emang rama salah apa?
Rama: aku merasa bersalah aja. Selama ini aku dah sering ganggu waktu Sinta lewat nelfon malam-malam, sms terus-terusan, pengen tahu segala sesuatunya tentang Sinta.
Sinta: Is ok, ga apa-apa kok.
Rama: aku jadi ga enak aja!
Sinta: santai aja lagi….
Keduanya terdiam, sembari menikmati pemandangan kanan-kiri.
Rama: kata foucolt bahwa segala sesuatu tidak bebas nilai. Pernah baca tentang teori itu ga?
Cinta: ya pernah..… segala sesuatu juga tidak bebes kepentingan
Rama: Sebenarnya kalau boleh jujur yang ku laikuin selama ini (sering sms, nelfon, ngurusi kepribadian) ke cinta juga ga bebas nilai, tapi bentuk representasi dendamku pada cinta.
Sinta: dendam….! Memeng sinta salah apa sih?
Rama: sinta ga salah, tapi bagiku sinta adalah penjahat wanita yang paling kejam di dunia ini melebihi kekejaman nazi, bahkan diktator Hitler.
Sinta: terus kejahatanku seperti apa? Maaf….maaf….
Rama: sinta ga jahat secara fisik, tapi secara emosi, dirimu selalu menghantui setiap detik waktu aku. Tapi aku senang dengan hantumu itu, hantu itu membuat aku mabuk rindu. Hingga aku sekarang ga bisa melupakannya
Sinta: kamu ga berusaha mengusirnya?
Rama: sempat aku sesekali mengusirnya. Tapi aku ga mampu, dia lebih kuat bahkan sekarang terpaku dan tertanam jauh dan tulus duduk di lubuk hatiku terdalam. Kamu selalu hadir dan mengada dalam lintasan pikiranku, kamu meneduhkan hatiku, menyemai damai dalam damai. Seperti bersamamu saat ini, kedamaian ada dalam tiap detiknya.
Keudanya membisu, saling menatap mesra… berbagai perasaan campur aduk
Sinta: maksud rama?
Rama: sederhananya, ijinkan aku untuk hadir dan mengada di hati sinta, ijinkahlah aku ikut senang dikala bahagia, biarlah aku jadi obat dikala sinta sedang sakit, biarklah aku meneduhkan dikala sinta serasa panas. Biarlah aku ikut menyemai dalam damaimu.
Sinta:……???????????
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
11:29 PM
0
komentar
Label: Mesra
Jumat, September 28, 2007
Mana Untung, Mana Buntung

Setiap tahun Jawa Tengah akan kehilangan 2.500 ton produksi beras
akibat pembangunan jalan tol Semarang-Solo.
Untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain seperti Jawa Timur dan Jawa Barat dalam hal laju ekonomi serta memperlanjar jalur transportasi, pembangunan jalan tol Semarang-Solo adalah sebuah keharusan dan keputusan yang mutlak.
Ir. Danang Atmojo MT, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah mengatakan itu sebagai syarat mati, pasalnya jalur utama yang menghubunghkan kedua Kota tersebut sering terjadi kemacatan “makanya kita harus membuka jaringan baru,” ungkap pria yang ikut mengisi seminar tentang “Percepatan Pembangunan Tol Semarang-Solo Dan Peningkatan Ekonomi Masyarakat” yang di selenggrarakan oleh Kelompok Diskusi
Wartawan Provinsi jawa tengah 25 Juli 2007 lalu.
Pembangunan jalan yang di anggarkan dana sebesar Tujuh Trilyun dan sudah direncanakan sejak tahun 2005 ini rencananya akan di realisasikan pada tahun 2007 dengan panjang sekitar 75,8 km sepanjang jalur anatara Semarang–Solo yang akan melintasi wilayah kota/kabupaten yang terdiri atas lima seksi yakni Tembalang-Ungaran (11,2 km), Ungaran-Bawen (11,9 km). Bawen-Salatiga (18,8 km), Salatiga-Boyolali (20,9 km). dan Boyolali-Karang Anyar (13 km). “sesuai rencana awal sebenarmya pembangunan ini di laksanakan tahun 2006, namun karena berbagi hal, sehingga di undur,” imbuh Danang.
Danang meyakinkan pembebasan lahan untuk membangun jalan tol Semarang-Solo tidak akan merugikan masyarakat. ”Dalam Perpres Nomor 36 Tahun 2005, pembebasan lahan bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum mengacu pada harga pasar,” kata Danang.
Masih menurut Danang, bahwa pembangunan akan membawa banyak keuntungan pada sektor ekonomi Jawa Tengah “semakin cepat pembangunannya maka semakin bagus,” imbuhnya.
Hal senada juga dijelaskan oleh Didik Sukmono, Ketua Komite Tetap Pengembangan Investasi Kadin Jawa Tengah, bahwa kalau ditinjau dari sisi ekonomi investasi Jawa Tengah sampai saat ini masih jauh tertinggal dari pada Jawa Barat dan Jawa Timur
Apalagi sampai akhir Agustus nanti one stop service akan di laksanakan di tiap-tiap Kabupaten, makanya kelancaran transportasi adalah suatu keniscayaan bagi masyarakat Jawa Tengah dan solusinya pembangunan jalan tol itu, “karena apabila tol itu benar-benar di bangun, paling tidak kita akan mendapatkan banyak keuntungan dalam hal laju industri, “ tutur Didik.
Didik mencontohkan, keuntungan pembangunan jalan tol adalah misalnya untuk memperlancar distribusi barang sehingga cost dapat ditekan, membuat acaun untuk membikin tata ruang yang lebih rapi, juga akan berdirinya rumah makan atau rest plece (tempat peristirahatan) di antara jalur tersebut, “namun kendalanya adalah adanya keberatan bagi pemilik tanah atau kendala ganti bagi pemiliknya,” imbuhnya.
Menurut Didik solusinya adalah selain ganti rugi uang juga berbentuk saham atau menyerehakan inbreng, “namun diprediksikan inbreng akan kembali dengan waktu sekitar 50 tahun yang akan datang,” imbuhnya lagi.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno menilai bahwa pembuatan jaringan baru memang salah satu cara untuk mengatasi kemacatan. Namun hal ini belum tentu bisa mengatasi masalah secara keseluruhan, baik aspek geografis, demografis, politis, ekologi, sosial masyarakat yang wilayahnya terkena proyek ini.
“Bagaimana dengan nasib para petani yang lahannya terkena proyek ini. Mereka hanya petani, meskipun diberi dana penggantian, mereka akan kesulitan karena hanya itu keahlian mereka, dan tidak punya ketrampilan dalam hal kewirausahaan,” imbuhnya.
Djoko mencontohkan, setalah ada tol Cipularang Jawa Barat saat ini akses lalu lintas memang relatif lancar. Namun kawasan yang dulu banyak usaha kecilnya (penginapan, rumah makan), sebagaian besar sudah tutup. “Untuk Semarang-Solo, dari Banyumanik hingga Bawen ada banyak SPBU, rumah makan dan penginapan, Setelah tol dibangun bagaimana? Ini juga harus dipikirkan,” ujarnya.
Masih menurut Djoko bahwa menurutnya, secara geografis maupun ekologis area yang akan dibangun jalan tol adalah wilayah pertanian, dimana lahan pertanian di daerah tersebut sangat potensial, dan 30 persennya adalah hutan lindung dan 10 persen terkena jalan tersebut yang akan dibangun.
“Kalau wilayah tersebut benar-benar akan dibangun efeknya bagi lingkungan akan berbahaya, kalau hutan-hutan itu ditebang, daerah bawah akan banjir, padahal daya serap hutan itu sangat tinggi” terangnya.
Apabila lahan tersebut akan dibangun, maka akan terbagun lima kali lipat dari lahan yang di gunakan, biasanya akan muncul bengkel, restoran, dan toko-toko disampinya terebut. “Sebenarnya Jawa Tengah ini mengidentifikasi sebagai daerah apa? Agraris atau industri? Kalau memang pertanian mengapa dipangkas habis-habisan?,” Djoko menanyakan.
Menurut Kepala Subdinas Sarana dan Prasarana Pertanian Jateng Hari Tri Hermawan, Jawa Tengah (Jateng) akan kehilangan 2.500 ton produksi beras per tahun akibat pembangunan jalan tol Semarang-Solo. Proyek yang melewati enam kabupaten/kota ini akan memakan 311 hektare areal persawahan. "Dengan hilangnya 311 hektare sawah, dalam setahunnya, Jateng akan kehilangan 2.500 ton beras," katanya.
Menurutnya, jumlah tersebut masih bisa bertambah, tergantung pelaksanaan proyek. Jika sesuai rencana, proyek tol Semarang-Solo akan dimulai pembangunannya awal 2007. Akhir tahun ini, ditargetkan proses pembebasan tanah sudah selesai. Enam daerah yang dilewati proyek ini adalah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Salatiga, Boyolali, Karanganyar, dan Sukoharjo.
Meski akan mengurangi produksi beras di provinsi ini, Badan Bimas Ketahanan Pangan setempat memastikan tidak sampai mengurangi ketahanan pangan Jateng. "Berkurangnya produksi beras akibat proyek tol tidak mengakibatkan Jateng minus beras," kata Gayatri Indah Cahyani.
Saat mengutip data Pemprov Jateng, dia menyebutkan, lahan sawah yang bakal terkena seluas 3.135.063 meter persegi. Sementara itu, lahan perumahan warga mencapai 1.097.137 meter persegi, tegalan 1.504.500 meter persegi, dan hutan 2.683.751 meter persegi. ''Dari data itu, dapat diperkirakan bahwa masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani yang paling terkena dampaknya,'' kata dia.
Lahan persawahan di Kota Semarang yang bakal terkena seluas 119.630 meter persegi. Kemudian di Kabupaten Semarang mencapai 1.644.815,5 meter persegi, Kota Salatiga (177.752 meter persegi), Kabupaten Boyolali (967.546 meter persegi), dan Kabupaten Karanganyar (225.320 meter persegi). ''Dengan hilangnya lahan garapan tersebut, nanti mereka akan menjadi pengangguran,'' katanya.
Jawa Barat, menurutnya, memiliki jalan tol sepanjang 237 km, Jawa Timur 62 km, DKI 106 km, dan Sumatera Utara 37 km. Panjang jalan tol di Jateng saat ini baru mencapai 25 km. Jika jalan Tol Semarang-Solo sepanjang 75,87 km dibangun, total panjang jalan tol di Jateng mencapai 100,87 km.
Jalan tol Semarang-Solo akan dibangun per lajurnya selebar 3,6 meter, bahu luar jalan selebar tiga meter, bahu dalam 1,5 meter, dan lebar median 5,5 meter. Dengan spesifikasi ini, lebar jalan tol Semarang-Solo minimal mencapai 40 meter.
Djoko Setijowarno mempertanyakan tujuan pembangunan tol untuk kepentingan masyarakat. ”Masyarakat yang mana? karena dalam sejarah selama ini tidak ada masyarakat sekitar jalan tol yang menjadi sejahtera setelah wilayah mereka dilewati jalan tol. Yang ada juga tanah mereka menjadi berkurang karena tergusur untuk pembangunan jalan tol,” kata Djoko.
Soal Peraturan Presiden (Perpres) No 36/2005 yang menjadi dasar pembangunan , kata Djoko, jelas tujuannya bukan untuk kepentingan umum, melainkan lebih untuk kepentingan bisnis. Seperti pembangunan jalan tol, lebih untuk memperlancar bisnis atau kegiatan ekonomi sekelompok orang atau golongan dari pada masyarakat, terutama masyarakat yang lahannya tergusur.
Selain itu, masyarakat juga tidak pernah merasakan manfaat dari adanya proyek-proyek tersebut. Mereka tidak bisa menikmati proyek tersebut dalam arti sesungguhnya, mendapatkan keuntungan atau kemudahan karena proyek tersebut. Mungkin satu-satunya ”keuntungan” mereka adalah dapat menikmati (baca: melihat) wujud proyek-proyek tersebut yang biasanya identik dengan modernisasi atau kemajuan teknologi.
Menurut Djoko Kalau memang terpaksa akan di bangun tol lebih baik membangun tol di atas jalan yang sudah tersedia meskipun mahal tetapi secara makro tidak mahal.
Berbalik dengan Djoko, Noor Achmad, anggota DPRD Jawa tengah komisi A menilai pembangunan jalan tol Semarang-Solo adalah hal yang mutlak karena untuk mengejar ketertinggaan dari daerah lain. “Tapi yang harus di lakukan pemerintah adalah harus adanya sebauah kesepemahaman bersama antara pemerintah dan masyarakat, yaitu dengan memberikan sosialisasi yang sejelas-jelasnya sehingga tidak terjadi alah paham,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Wahid Hasyim ini.
“Sosialisasinya juga harus transparan, sehingga masyarakat lebih mengerti dan memahami keuntungan maupun kerugiannya, baik secara ekonomis, sosiologis bahkan antropologis religius,“ imbuhnya. (Amin Fauzi)
*ulisan ini juga di muat di tabloid edisi 109 SKM AMANAT IAIN Walisongo Semarang.
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
9:52 PM
0
komentar
Label: wacana
Yang Beda dari KKN PBA

Tujuan KKN adalah pengabdian masyarakat. Bukan proyek.
Halaman Auditorium I nampak ramai. Tempat yang biasanya sepi itu, Senin (9/7/2007), sekitar pukul 07.00 WIB dipenuhi oleh ratusan mahasiswa.
Bersama kelompoknya masing-masing, mereka mengikuti upacara pemberangkatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang segera diterjunkan di Kabupaten Kendal.
“KKN kali ini berbeda. KKN kali ini bersifat tematik, yaitu berkonsentrasi pada penuntasan buta aksara,” kata Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. Abdul Djamil, MA dalam sambutan upacara pelepasan KKN tersebut.
Memang, sejak tahun 2007 ini, 28 Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta di Jawa Tengah, bekerja sama dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah, mengarahkan orientasi KKN mahasiswa pada pemberantasan buta aksara (PBA).
Drs Mudhofi, M.Ag., sekretaris PPM IAIN Walisongo menegaskan, pada tanggal 12 April 2007, 28 Rektor perguruan tinggi dan Gubernur Jateng menandatangani MoU (Memorium of Understanding) atas program ini.
Kepala Renbang (Rencana dan Pengembangan) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Drs Jasman Hendratno, M.Si., sang penggagas program mengatakan, KKN PBA ini berawal dari kegelisahan melihat begitu banyaknya msyarakat yang masih menyandang buta aksara.
Penelitian yang dilakukan HDI (Human Development Index), katanya, Indonesia menempati posisi ke-111 dari 117 negara penyandang buta aksara di dunia. “Di Indonesia, Jawa Tengah menempati posisi kedua terbanyak setelah Jawa Timur.”
Sementara dalam catatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Subdin Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dan Olah Raga tahun 2007, di Jawa Tengah, angka buta aksara mencapai 2,690,225 jiwa yang terbagi dalam 35 kabupaten/kota.
Berdasarkan penelitian HDI dan catatan dari Dinas Pendidikan itulah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Inpres No. 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.
Jawa Tengah cepat menangkap instruksi presiden. Yaitu dengan menggandeng Mahasiswa KKN dalam program pemberantasan PBA tersebut. “Targetnya, setahun lagi tak ada penyandang buta aksara di Jateng,” tegas Jasman.
Sebelumnya, program serupa juga telah digalakkan. Yaitu dengan menggandeng berbagai organisasi seperti PKK, Muslimat, Aisyiyah, Fatayat NU dan sebagainya. “KKN ini merupakan salah satu cara agar lebih efisien dalam penuntasan buta aksara,” timpal Suwahyo, staf di PLS Diknas Jateng.
Model KKN PBA
Jelas ada yang beda dalam KKN PBA. Mahasiswa bisa berlega hati, karena tidak usah memikirkan membantu pembangunan fisk di Desa tempat mereka KKN.
Dalam KKN yang bekerja sama dengan Forkom (Forum Komunikasi) KKN Jateng ini, seluruh konsep, pengorganisasian dan koordinasinya diserahkan kepada perguruan tinggi masing-masing.
Ketua Forkom KKN Jateng Drs Subagyo M.Pd. mengatakan, konsep KKN PBA adalah mahasiswa diberi tugas khusus untuk melakukan bimbingan kepada masyarakat. “Dua mahasiswa membimbing satu kelompok belajar yang terdiri dari dua puluh warga.”
Tidak hanya dalam praktek di lapangan yang berbeda. Biaya dalam KKN PBA ini juga relative lebih ringan jika dibandingkan dengan KKN yang selama ini berlaku.
Jika dalam model KKN yang selama ini berlangsung mahasiswa harus merogoh kocek yang tidak sedikit, yang bisa mencapai pulahn juta, KKN PBA biayanya ditanggung oleh Pemerintah.
“Tahun 2007 ini Pemprov menyediakan 33 Milyar rupiah untuk KKN PBA ini. Perguruan tinggi hanya pelaksana,” tuturnya.
Mengenai besarnya biaya yang diterima oleh masing-masing perguruan tinggi, tergantung jumlah mahasiswa yang diterjunkan dalam KKN. Ukurannya adalah kelompok. Satu kelompok belajar terdiri dari 2 mahasiswa dengan anggaran Rp.3.320.000.
Karena itu, lanjut Jasman, untuk mengetahui jumlah subsidi per perguruan tinggi, tinggal mengalikan saja dengan jumlah mahasiswa peserta KKN yang ada.
“Kegiatan lain yang berhubungan dengan KKN, semuanya sudah ada anggaranya sendiri dan sudah diperhitungkan. Mulai pembekalan, transportasi, monitoring, semuanya sudah ada,” jelasnya.
Mudhofi kepada AMANAT menjelaskan, uang Rp.3.320.000 itu kegunaanya bukan cuma untuk mahasiswa, tapi untuk kebutuhan lain seperti living kost dan transport per mahasiswa sebesar 500.000 rupiah, jaket, topi almamater, buku panduan, alat tulis kantor (ATK) warga belajar, pembekalan, bahan anggaran pelaksanaan pengajaran, evaluasi, laporan akhir kegiatan dan transport monitoring untuk DPL.
“Di IAIN Walisongo ada 18 DPL. Tiap memonitoring dianggarkan Rp. 320.000 per DPL. Padahal tiap DPL wajib memonitoring sebanyak tujuh kali,” tambah Mudhofi.
Dan untuk tahun ini, tambah dosen Dakwah ini, IAIN Walisongo menerjunkan 360 mahasiswa di kabupaten Kendal yang tersebar di enam kecamatan, yaitu Sukerojo, Pageruyung, Plantungan, Gemuh, Ringin Arum dan Weleri. “Penempatan ini ditentukan oleh Dinas. Kita hanya pelaksana.”
Transparansi dana
Meski dana KKN PBA sudah di tanggung Pemprov., namun ternyata mahasiswa harus bayar juga. Selain itu, dana dari Pemprov juga disunat oleh pihak kampus.
Di IAIN Walisongo, peserta KKN hanya menerima Rp. 450.000 dari Rp. 500.000 yang seharusnya diterima. Sebelumnya, mahasiswa juga ditarik Rp.200.000. “Katanya untuk bayar transportasi,” kata salah seorang peserta.
Usut punya usut, uang Rp.50.000 yang disunat dari dana yang harus diterimakan kepada mahasiswa, adalah untuk biaya transportasi. “Lalu untuk apa uang 200.000 itu?” timpal peserta KKN yang lain.
Tak pelak, hal itu memunculkan pertanyaan diantara peserta KKN. Karena dana itu belum ada kejelasannya hingga sekarang. “Uang dua ratus ribu itu belum adapenjelasannya,” ungkap Zaqy Mubarok yang dibenarkan oleh Sidli Richanah.
Drs. Suriadi, MA., ketua PPM ini memang mengatakan, bahwa uang itu kembali kepada mahasiswa. Namun tidak dijelaskan secara rinci dalam bentuk apa.
Sementara Mudhofi mengatakan, uang itu digunakan untuk asuransi, konsumsi 7 kali dalam rapat koordinasi, Rp.100.000 untuk transport koordinator desa, Rp.150.000 untuk transport koordinator kecamatan, dan kunjungan kerja KKN.
Ketika AMANAT mencoba melakukan konfirmasi ke perguruan tinggi lain, memang ada yang membayar, tapi tidak sebesar IAIN. “Di UNNES ada biaya tambahan, tapi sedikit,” ungkap Subagyo dari Universitas Negeri Semarang ketika di hubungi via telepon..
Sementara perguruan tinggi lain, banyak yang gratis sama sekali seperti Universitas Muria Kudus (UMK).
Mahasiswa Bingung
Persoalan yang muncul dalam KKN model baru ini, tidak berhenti di sini. Karena tuntutan lain menghadap ketika para mahasiswa itu sudah diterjunkan ditengah-tengah masyarakat.
Persoalan itu adalah tuntutan bahwa satu mahasiswa harus bisa menuntaskan 10 warga buta aksara. Kalau IAIN Walisongo menerjunkan 360 mahasiwa, 3600 penyandang buta aksara harus bisa dientaskan.
“Mahasiswa diterjunkan di Desa selama 45 hari dan harus menyelesaikan kegiatan belajar mengajar kepada warga penyandang buta aksara selama 144 jam. Kalau tidak bisa dibuat kelas, mahasiswa harus mengajar dari rumah ke rumah,” ujar Jasman.
Kategori warga penyandang buta aksara, seperti dijelaskan dalam buku panduan, adalah orang yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung sama sekali ataupun mereka yang drop out kelas 1-3 Sekolah Dasar (SD).
Persoalannya, data penyandang buta aksara yang diberikan Diknas, belum tentu valid. Ini tentu membingungkan mahasiswa di lapangan. “Ketika saya cek warga yang ada di daftar, di lapangan banyak yang tidak ada orangnya,” keluh Muhammad Yusuf, peserta KKN di Desa Cepoko Mulyo Gemuh Kendal.
Akhirnya, Yusuf bersama kawan-kawan satu posko pun melakukan pendaftaran dan cek ulang terhadap data-data yang ada. Yaitu dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah.
Parahnya lagi, tak sedikit daftar penyandang buta aksara yang diberikan Diknas, sudah ditangani oleh Fatayat NU, Aisyiah dan PKK. “Jadinya ya rebutan,” kata Yusuf.
Yang tragis, adanya penolakan terhadap tim KKN PBA. Seperti yang terjadi di Desa Gebang, Tlahap, Gemuh, Kendal, dengan alasan tidak mau menerima delegasi dari pemerintah.
Ya, suka duka KKN PBA itu, memang resiko. Tapi yang jelas, semoga ini bukanlah proyek semata atau bahkan kelinci percobaan dari sebuah program, dengan mahasiswa sebagai tumbalnya. (Amin Fauzi)
* Tulisan ini juga diterbitkan di tabloid edisi 109 SKM AMANAT IAIN Walisongo Semarang
Diposting oleh
AMIN FAUZI was born:
di
9:39 PM
0
komentar
Label: wacana
